Ali Sadikin: Tolak Megapolitan, Orang Geblek
Selasa, 20 Jun 2006 13:15 WIB
Jakarta - Ide penyatuan ibu kota Jakarta dan sejumlah kota tetangga dalam konsep megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cianjur dan Sukabumi ditolak berbagai kalangan. Sebagai orang pertama yang menggelontorkan ide ini, Ali Sadikin menuding orang yang menolaknya sebagai orang yang tidak pintar."Itu orang geblek dan tidak pintar," cetus Bang Ali, panggilan mantan gubernur ini ketika ditemuai wartawan usai bertemu Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzie Bowo di kediamannya, Jalan Borobudur No 2, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/6/2006). Dengan gaya emosionalnya, Bang Ali menuturkan, penyatuan wilayah Jakarta dengan sejumlah wilayah penyangga dalam satu konsep megapolitan merupakan konsep yang mutlak diterapkan. Sebab, menurutnya, hal tersebut menyangkut kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat miskin, agar bisa hidup dengan layak.Selain itu, konsep megapolitan diperlukan agar kehidupan masyarakat di daerah-daerah penyangga dapat terkendali dalam satu program. Seperti diketahui, ide Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso untuk mengembangkan daerah ibukota ini mendapatkan tentangan berbagai kalangan, utamanya daerah-daerah yang hendak "dicaplok" Jakarta.Tak Perlu Pilkada WalikotaSementara mengenai usulan beberapa partai politik agar jabatan walikota di wilayah DKI Jakarta dipilih langsung oleh masyarakat, Bang Ali tidak setuju pada ide tersebut. Alasannya, letak daerah-daerah yang dipimpin walikota ini saling berdekatan dalam satu wilayah Provinsi DKI Jakarta. "Saya tidak setuju, karena hidup kita sudah terintegrasi betul," tegas pensiunan jenderal Marinir ini.
(zal/)











































