Bernafas dalam Lumpur Panas di Sidoarjo
Selasa, 20 Jun 2006 11:20 WIB
Jakarta - Warga tiga desa di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, terpaksa harus mengungsi. Tempat tinggal mereka kini tidak layak huni lagi. Lumpur masuk ke pemukiman hingga ke dalam rumah warga dan bau gas busuk menyengat di mana-mana.Itulah yang terjadi di Desa Siring, Jatirejo dan Reno Kenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Ribuan warga yang tinggal di tiga desa tersebut terpaksa menghirup bau menyengat dan hidup di tengah banjir lumpur. Tidak ada pilihan lain, mereka harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.Pantauan detikcom, Selasa (20/6/2006), atau minggu ketiga pascasemburan lumpur yang keluar dari lapangan eksplorasi Lapindo Brantas Inc, luberan lumpur kian bertambah luas. Setelah tiga desa terendam, kini lumpur sudah mulai masuk wilayah baru, yakni Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.Untuk mengantisipasi melubernya lumpur ke lokasi-lokasi yang masih aman, warga Desa Kedungombo mulai membangun tanggul dan memasang anyaman bambu untuk membendung aliran lumpur. Tanggul ini dibangun di sejumlah tempat, termasuk di Desa Siring, Jatirejo dan Renokenongo.Untuk tiga desa yang sudah terendam lumpur, tanggul sengaja dibuat di mulut-mulut jalan untuk menghadang warga yang hendak melihat-lihat kampung yang tengah terendam. Tanggul sengaja di pasang untuk mengamankan wilayah pemukiman yang sudah kosong ditinggalkan warga.Memasuki hari ke-22 pascasemburan lumpur panas ini, pemerintah dan Lapindo berupaya membendung semburan lumpur panas. Berbagai cara tengah dilakukan, seperti mendatangkan alat pendeteksi lumpur (snubbing unit), menyedot lumpur dan dialirkan ke areal yang tengah disiapkan dan sejumlah cara lain.Maklum saja, 5.000 meter kubik lumpur menyembur setiap harinya. Bila semburan ini tidak bisa dihentikan, bukan tidak mungkin akan muncul gunung lumpur di pinggir tol Gempol-Surabaya.
(jon/)











































