Merapi Berkabut Tebal, Warga Balerante Andalkan Sinyal HT
Senin, 19 Jun 2006 13:24 WIB
Yogyakarta - Kabut tebal menyelimuti puncak Gunung Merapi. Pengamatan visual pun terbatas. Relawan maupun warga di sekitar Merapi hanya bisa mengandalkan sinyal handy talkie (HT) untuk mendapatkan informasi.Kondisi kabut tebal terjadi sejak Minggu 18 Juni pukul 19.00 hingga Senin (19/6/2006) pagi, dari Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten.Namun suara gemuruh dari puncak akibat material Merapi yang turun masuk ke hulu Kali Gendol terdengar cukup keras.Petugas hanya mengandalkan alat seismograf yang ada di pos-pos pengamatan. Sedangkan bagi relawan yang ada di Desa Balerante maupun warga yang tinggal di lereng Merapi hanya bisa mengandalkan alat dapat memancarkan sinyal yang dipancarkan melalui gelombang VHF di gelombang 16.000 MHz."Tidak seperti malam Minggu hingga Minggu pagi kemarin. Aktivitas Merapi dapat diamati dengan mata biasa. Bila Merapi tertutup kabut tebal sejak semalam, andalan kami hanya dengan sinyal di HT," kata Zainu, (45) aparat pemerintah Desa Balerante kepada detikcom, Senin (19/6/2006).Menurut Zainu, warga hanya mendengarkan sinyal yang dapat didengar melalui pesawat HT yang ada di posko relawan di rumah Kadus Gondang, Adi Prayitno maupun di pos-pos ronda warga dusun seperti di Sambungrejo dan Ngipiksari. Peralatan komunikasi seperti HT saat ini sangat berguna membantu untuk mengetahui perkembangan aktivitas Merapi.Dikatakan Zainu, bila sinyal di HT terus-menerus mengeluarkan bunyi denging tanpa henti, itu berarti luncuran lava maupun awan panas dari atas menjangkau sangat jauh dan besar. Selanjutnya warga harus segera berkumpul di titik kumpul di tanah lapang di selatan Dusun Gondang. Di tempat tersebut sudah disiagakan 2 truk yang selalu stand by siap mengangkut warga sewaktu-waktu.Demikian pula bila suara sirene sudah terdengar, berarti luncuran lava dan awan panas sudah mencapai 4 km. Itu berarti warga sudah harus segera menyingkir dan lari menyelamatkan diri."Mereka selalu waspada terutama sore dan malam hari. Sedang pagi hari, meski mereka pulang ke rumah untuk berladang atau memberi makan ternak, pada siang hari pukul 14.00 WIB sudah harus kembali turun ke barak," katanya.Menurut dia, dusun-dusun yang berada di dekat puncak Merapi dalam jarak 6,5 hingga 7 km di antaranya Dusun Gondang, Sambungrejo, Ngipiksari, Bendosari dan Balerejo. Di tempat tersebut sedikitnya terdapat 200 KK dengan jumlah 900-an jiwa. Sambungrejo dan Ngipiksari merupakan dusun yang paling atas serta berada di dekat hulu Kali Woro.Di Desa Balerante, kata Zainu, sebagian besar warga lansia, anak-anak dan ibu-ibu sudah mengungsi di barak Ngemplakseneng, Kecamatan Manisrenggo. Sedangkan para laki-laki dewasa bersama relawan masih berada di dusun masing-masing untuk menjaga keamanan. Semua warga yang laki-laki setiap hari ronda bergiliran sambil memantau Merapi."Saat ini, kami juga selalu berhubungan dengan warga yang tinggal di bagian atas seperti Dusun Kali Tengah Lor, Kali Tengah Kidul Desa Glagaharjo Sleman, yang bersebelahan dengan dusun kami, untuk tukar informasi mengenai pengamatan Merapi," katanya.
(sss/)











































