Pedagang Kerak Telor Keluhkan Mahalnya Tiket PRJ
Minggu, 18 Jun 2006 21:16 WIB
Jakarta - Kerak telor seakan sudah menjadi tradisi di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ). Namun para pedagang makanan khas Jakarta ini mengeluhkan sepinya pembeli.Tahun lalu setiap pedagang kerak telor di PRJ bisa menghabiskan 2-15 kilogram telur per hari. Namun kin hanya bisa menghabiskan dua kilo telur saja."Itu juga sudah Alhamdulillah," kata Bisri (24), salah satu pedagang kerak telor yang ditemui detikcom di PRJ Kemayoran, Minggu (18/6/2006).Bisri, yang telah berjualan kerak telor sejak umur 10 tahun ini, menuding sepinya pembeli kerak telor karena pembeli sudah dibebani harga tiket PRJ yang lebih mahal dibanding tahun lalu.Pedagang kerak telor juga mengaku tidak dapat menyiasati sepinya pembeli dengan berkeliling arena PRJ. Soalnya, pedagang kerak telor tidak diizinkan untuk bebas keliling berdagang di dalam arena PRJ. Mereka hanya diizinkan berjualan di dekat pintu 2F di sebelah utara arena PRJ. "Hari pertama dagang malah sempet dikejar-kejar kamtib (keamanan) gara-gara jualan sembarangan," kata Bisri.Selain itu, para pedagang kerak telor yang semuanya asli asal betawi itu juga mengeluh banyaknya uang yang harus dikeluarkan untuk bisa dagang di PRJ. Menurut Wahyu (56) yang juga penjual kerak telor, setiap pedagang di dalam arena PRJ dipungut Rp 2,5 juta untuk berdagang selama sebulan."Udah gitu, tiap kali masuk juga musti bayar tiket Rp 16 ribu. Padahal tahun kemarin gratis," ujar wahyu dengan logat betawi.Wahyu mengaku merogoh kantung Rp 3,5 juta untuk sewa tempat dan membeli bahan-bahan kerak telor selama sebulan. Itu tidak termasuk harga karcis yang harus dibeli tiap hari. "Yah mudah-mudahan sih bisa balik modal," tambah Wahyu yang menjual dagangannya seharga tujuh ribu per kerak telor, Menurutnya, dirinya termasuk beruntung bisa berjualan didalam arena. Karena panitia cuma membatasi pedagang kerak telor yang boleh berjualan dalam arena PRJ paling banyak 20 pedagang."Teman-teman di luar mau demo karena yang boleh dagang di dalam cuma dua puluh orang," kata Wahyu.
(mar/)











































