Warjono, Satgas PDIP yang Ingin Rasakan Amannya Bunker

Warjono, Satgas PDIP yang Ingin Rasakan Amannya Bunker

- detikNews
Jumat, 16 Jun 2006 15:15 WIB
Sleman - Warjono, relawan yang tewas di dalam bunker Merapi di Kaliadem, meninggalkan dunia ini dalam usia yang masih cukup muda, 33 tahun. Dia masih membujang.Selain dikenal sebagai relawan, Warjono juga dikenal sebagai Satgas PDIP. Selama menjadi relawan, Warjono selalu yakin bahwa bunker sangat aman untuk berlindung dari 'amukan' Merapi.Pria kelahiran 1973 ini ditemukan tewas di dalam bunker, Jumat (16/6/2006) pagi, setelah Tim SAR berhasil masuk ke dalam bunker. Bersama Warjono, Sudarwanto yang merupakan relawan dari Artha Graha juga ditemukan tewas di bunker perlindungan itu.Informasi yang didapatkan detikcom, selama ini Warjono menjadi Satgas DPC PDIP Cangkringan, Sleman. Sejak Merapi aktif kembali, anak ketiga dari lima bersaudara ini pun selalu terlibat dalam pemantauan aktivitas Merapi.Dudi, salah seorang teman Warjono di Satgas PDIP, bercerita, sejak Jumat 9 Juni 2006 lalu, Warjono setiap hari memantau Merapi. Dia memantau Merapi dari Bumi Perkemahan Bebeng dan sekitarnya. Pada Jumat lalu saat terjadi awan panas Merapi yang cukup besar, dia sempat naik 500 meter dari Bumi Perkemahan Bebeng.Ada pesan Warjono yang masih diingat Dudi. "Dia selalu berpesan, bila terjadi awan panas, daripada lari dengan mengendarai motor, lebih baik masuk ke dalam bunker," kenang Dudi. Warjono juga pernah mengaku ingin sekali merasakan bunker saat Merapi mengeluarkan awan panas.Dudi yang juga menjadi relawan juga bercerita, 2,5 jam sebelum lahar panas menerjang Bebeng dan Kaliadem, Cangkringan, dirinya bersama Warjono sempat beberapa kali menyaksikan luncuran awan panas dari Bumi Perkemahan Bebeng. Saat itu, Dudi dan Warjono selalu menginformasikan kepada masyarakat untuk segera menyingkir.Lagi-lagi Warjono berpesan kepada masyarakat untuk berlindung di bunker. "Kalau awan panas masuk ke pemukiman, lebih baik motor ditinggal dan lari masuk ke bunker, karena bunker aman," pesan Warjono saat itu kepada masyarakat.Cerita Dudi, saat Rabu (14/6/2006) ketika Merapi memuntahkan awan panas yang paling besar, Warjono berlari menyelamatkan diri. Dari Bumi Perkemahan Bebeng, dengan mengendarai sepeda motor, Warjono berbelok ke arah kanan menuju bunker. Sesampai di bunker, dia memarkirkan motornya di depan bunker dan masuk ke dalam bunker.Beberapa saat kemudian, material panas Merapi menerjang kawasan Bebeng dan Kaliadem hingga mengubur bunker. Warjono pun tewas di dalam bunker. Sementara sepeda motornya diperkirakan tertimbun oleh material Merapi. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads