Tempat Duduk Pria-Wanita di Angkot DKI Dipisah, Komnas Perempuan: Menyulitkan

ADVERTISEMENT

Tempat Duduk Pria-Wanita di Angkot DKI Dipisah, Komnas Perempuan: Menyulitkan

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 13 Jul 2022 07:01 WIB
Terus digempur virus Corona, Pengusaha angkot, Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta mengatakan angkutan umum terancam gulung tikar.
Ilustrasi (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Komnas Perempuan tidak setuju dengan rencana Pemprov DKI Jakarta yang akan memisahkan tempat duduk pria dan wanita di angkot. Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani pun memberikan sejumlah alasan terkait penolakan itu.

Andy awalnya menjelaskan komposisi duduk di angkot. Dia menyinggung istilah '4-6'.

"Kalau angkot biasanya ada teriakan 4-6, 4 di kiri, 6 di kanan pas di belakang sopir. Pada beberapa rute, harus menunggu sampai penuh baru angkot akan bergerak," kata Andy kepada wartawan, Selasa (12/7/2022).

Andy menyebut kapasitas angkot biasanya 12 penumpang. Sering pula angkot baru berangkat jika kursi telah terisi banyak penumpang.

"(Ada) 12 penumpang karena 2 di samping sopir, 4-6 di belakang. Prinsipnya, siapa yang duluan sampai, dia bisa masuk dan berharap semoga bangku segera diisi agar bisa berangkat," jelasnya.

Andy kemudian menyoroti tempat duduk perempuan yang ada di sisi kiri angkot yang artinya hanya kapasitas empat orang. Dia menilai pembatasan itu membuat penumpang perempuan kelima harus menunggu angkot selanjutnya.

"Kebayang, rekan-rekan perempuan hanya bisa duduk empat orang, maka orang kelima harus menunggu angkot berikutnya. Demikian juga yang laki-laki. Kalau jadi orang ke-7, harus tunggu angkot berikutnya, padahal baris di seberangnya ada ruang kosong," katanya.

Menurut Andy, pengaturan tempat duduk ini akan menyulitkan pengguna angkot perempuan maupun laki-laki. Pengaturan ini juga dinilai akan merugikan penyedia jasa.

"Model pengaturan ini tidak implementatif karena akan menyulitkan penumpang, apa pun jenis kelaminnya, dan menjadi kerugian bagi penyedia jasanya," kata dia.

"Kebayang ya, misal posisi 4 sudah penuh, sementara posisi 6 masih kosong, maka angkot akan menunggu penumpang yang harus pas jenis kelaminnya untuk bisa mengisi kursi kosong itu," katanya.

Selain itu, Andy menilai pengaturan tempat duduk ini juga berpotensi menjadi peneguh budaya menyalahkan korban, apa alasannya?

"Padahal ada calon penumpang yang sudah siap berangkat tapi nggak bisa naik angkot karena jenis kelaminnya nggak pas untuk posisi kursi yang kosong itu. Selain itu, pengaturan serupa ini berpotensi menjadi peneguh budaya menyalahkan korban," katanya.

"Misalnya ia berkeras naik angkot karena sudah terlambat. Jika terjadi pelecehan seksual, ia yang dianggap bertanggung jawab. Karena kan sudah diatur seharusnya ia tidak duduk di deret tersebut," katanya.

Selengkapnya pada halaman berikut.

Lihat juga Video: Pemudik dari Depok Naik Angkot ke Lampung: Murah-Bisa Angkut Banyak

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT