ADVERTISEMENT

Cerita Keluarga Korban Lion Air JT-610 soal ACT Jadi Penyalur Dana Kompensasi

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 11 Jul 2022 15:57 WIB
Keluarga serta kerabat korban pesawat Lion Air PK-LQP menabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat tersebut. Kesedihan dan air mata mengiringi prosesi itu.
Tabur bunga korban Lion Air JT-610 (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Bareskrim Polri sedang menyelidiki Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diduga menyelewengkan dana ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610. Keluarga korban bercerita mengenai ACT yang ditunjuk untuk menyalurkan dana dari Boeing itu.

Hal itu disampaikan oleh keluarga korban Lion Air JT-610 Tami Julian, Engki Bocana. Engki menyebut tiap korban mendapatkan dana kompensasi dari Boeing sebanyak Rp 4 miliar.

"Nilainya Rp 4 miliar sebenarnya dari Boeing, jadi untuk keluarga korban. Itu sebenarnya dana untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan oleh jatuhnya Lion Air, contoh ada rumah yang ditabrak diganti pakai duit yang Rp 4 miliar per orang, terus ada pipa di Laut Jawa yang putus diganti pakai itu, ada kabel putus di Laut Jawa diganti pakai itu," kata Engki melalui sambungan telepon, Senin (11/7/2022).

Engki menyebutkan sebanyak Rp 2 miliar langsung ditransfer ke rekening keluarga korban. Sementara Rp 2 miliar lainnya tidak disalurkan kepada perorangan, sehingga ditunjuk yayasan sebagai penyalur.

Dana itu, kata Engki, ditujukan untuk kegiatan pendidikan hingga agama yang diajukan keluarga korban.

"Karena tidak ada yang signifikan yang disebabkan oleh jatuhnya Lion Air, maka 50% uang itu diserahkan langsung ke keluarga korban, ke rekening keluarga korban. Nah, 50%-nya harus keluarga korban merekomendasikan ke yayasan yang telah ditunjuk, atau yang telah direkomendasikan oleh Boeing," katanya.

"Sebenarnya uang itu kan untuk pendidikan dan agama," imbuhnya.

Engki sendiri tidak memilih ACT sebagai yayasan penyalur. Dia memilih yayasan yang dikelola oleh keluarga korban JT-610 lainnya. Engki menyebut ada 5 yayasan yang ditunjuk, termasuk ACT.

"Saya atas nama Tami Julian, kebetulan saya pakai yayasan keluarga korban sendiri, nah kami sudah selesai semua itu. Semua terbangun, jadi sekolah terbangun, masjid terbangun. Kebetulan saya pengawasannya, ada bangun masjid di Bogor saya awasi sampai selesai. Jadi kami tidak ada masalah," kata dia.

Cerita Proses Penunjukan Rekomendasi Yayasan

Engki pun menceritakan soal nama ACT muncul sebagai yayasan penyalur dana sosial itu. Dia menyebut proses pun berjalan cepat dan tergesa-gesa.

"Cuman saya aneh juga kemarin tiba-tiba muncul di belakang, kami sudah melaksanakan bahkan. Kami punya yayasan sendiri yang itu dikelola oleh almarhum yang meninggal di pesawat itu, tiba-tiba dari Boeing, atau Lion menyodorkan ACT, agak sedikit waktu itu, tergesa-gesa, saya nggak tahu apa maksudnya," kata dia.

Engki tidak mengetahui kenapa ACT menjadi salah satu yayasan yang direkomendasikan. Dia menyebut awalnya ada 15 yayasan yang harus dipilih keluarga korban untuk direkomendasikan ke Boeing.

"Kami tidak tahu ya ACT masuk ke dalam daftar yayasan yang direkomen oleh Lion atau oleh Boeing, karena awalnya itu kami hanya mengetahui ada 10 sampai 15 yayasan yang harus kami pilih untuk kami rekomendasikan, akhirnya 15 (yayasan) itu nggak ada yang kami pilih, akhirnya kami ngajuin sendiri atas nama korban Ahmad Mughni Pangkalpinang," kata dia.

Engki menyebut yayasan yang dia gunakan menangani dana CSR dari Boeing ini telah bergerak di bidang sosial selama 10 tahun. Dia menyebut ada sekitar 30 korban JT-610 yang memilih yayasan itu.

"Yayasan yang sudah bergerak 10 tahun di bidang membantu orang-orang yang nggak mampu sekolah disekolahkan, atau masjid makanya kami mengasih kepercayaan kepada istri almarhum, keluarga korban juga, ada 30 lebih di situ," katanya.

Engki menyebut dana 30 korban yang menggunakan yayasan dari keluarga korban Lion Air JT-610 itu telah tersalurkan seluruhnya. Engki sendiri juga ditunjuk sebagai pihak yang mengawasi pembangunan.

"Ya sudah tersalurkan, karena saya termasuk di situ yang mengawasi, survei, misalnya benar nggak masjid itu dibangun atau tidak, saya yang survei, kan dibagi-bagi, saya di wilayah Bogor, di Bogor minta tolong saya melihat pembangunannya dan itu kita awasi sampai selesai, dan itu bisa kita buktikan, kalau mau lihat ini jelas semua, tapi kalau ACT tidak ada yang beres satupun," kata dia.

Simak video 'ACT Raup Donasi Rp 60 M Tiap Bulan, Rp 12 M Dipakai Buat Bayar Gaji':

[Gambas:Video 20detik]



Simak keluhan keluarga korban soal ACT pada halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT