ADVERTISEMENT

BMKG Ungkap Terjadinya Fenomena Embun Es di Dieng

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Minggu, 10 Jul 2022 19:37 WIB
Suhu udara di Dieng pagi ini turun hingga minus 1 derajat Celsius, Kamis (30/6/2022).
Foto: Uje Hartono/detikJateng
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan fenomena embun es beberapa hari lalu di kawasan Dieng, Jawa Tengah berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau. Fenomena embun es di Dieng saat musim kemarau dimungkinkan terjadi lantaran Dieng berlokasi di dataran tinggi.

"Sehingga di malam hari yang tidak tertutup awan, suhu udara akan sangat dingin sekali karena radiasi balik dari bumi dengan leluasa menuju angkasa tanpa adanya pantulan dari awan. Sehingga bumi akan menjadi dingin sekali, dan seluruh lapisan di mana yang mengandung uap air itu, karena suhu minus yang biasanya disertai adanya frost atau embun yang membeku," kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan dilansir Antara, Minggu (10/7/2022).

Dodo menjelaskan suhu udara bisa sampai minus atau di bawah 0 derajat Celcius. Dia mengatakan hal itu dipengaruhi kondisi awan yang clear pada malam hari.

"Suhu bumi, karena tidak ada radiasi tentunya pada malam hari tidak ada matahari, justru energi bumi yang memancar meradiasikan kembali tanpa ada pemantulan dari awan khususnya, sehingga dia menjadi minus menjadi dingin bahkan bisa sampai minus," ujarnya.

Dia menyebut fenomena embun es ini tidak hanya terjadi di Dieng, namun juga di sejumlah wilayah lainnya yang berada di pegunungan. Embun beku tersebut berdampak pada warga yang memiliki usaha tani, menyebabkan gagal panen.

Dodo mengimbau agar para petani di pegunungan mengatur musim tanam dan tetap memperhatikan kondisi cuaca agar segera dilakukan panen sebelum embun es merusak tanaman.

Dodo mengatakan 35 persen dari zona musim di seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa, masih terdapat beberapa wilayah yang belum memasuki kemarau, oleh karena fenomena La Nina yang menyebabkan curah hujan yang masih cukup.

Kondisi La Nina akan menuju normalnya diprakirakan pada bulan Agustus, dan menuju netral pada bulan Oktober, November dan Desember.

"Jadi tidak hanya BMKG yang membuat perkiraan terkait La Nina ini, tapi beberapa badan meteorologi dunia membuat prakiraan La Nina dan sebagian besar mengindikasikan saat ini kondisinya yang lemah akan menuju pada fungsi netral," ujar Dodo.

(dek/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT