Intel is Dead, Ceramah Ba'asyir Tak Perlu Dimonitor
Kamis, 15 Jun 2006 15:25 WIB
Jakarta - Kesan diskriminatif akan mencuat bila ceramah-ceramah yang dilakukan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba'asyir dimonitor kepolisian. Hal itu menjadikan Indonesia seperti negara intel. Padahal di negeri ini intel is dead."Kita sudah mengakhiri masa intel itu. Dia sudah bebas. Seharusnya pengawasan itu tidak perlu," cetus anggota Komisi III DPR Arbab Pabroeka di Gedung DPR, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (15/6/2006).Masa intel adalah saat di mana intel mengawasi hampir semua aktivitas masyarakat, seperti yang dilakukan Orde Baru. Menurut pria dari FPAN ini, pemerintah hanya perlu mengimbau Ba'asyir untuk tetap konsisten menjaga ketertiban dan keutuhan bangsa."Ancaman yang paling besar bagi bangsa Indonesia bukan hanya Ba'asyir, tapi dari segi ekonomi dengan masih banyaknya pengangguran di mana-mana," terang Arbab.Karena itu, pemerintah harus bisa mengantisipasi ancaman itu dengan menciptakan lapangan kerja dan membangun sistem perekonomian yang kondusif."Intel silakan melakukan tugasnya, tapi jangan sampai membuat ketidaknyamanan Ba'asyir dalam ceramah. Masih banyak hal lain yang lebih mengancam bangsa," tandas Arbab.
(nvt/)











































