ADVERTISEMENT

Jokowi Cerita Harga BBM di RI Disubsidi APBN: Kalau Sudah Tak Kuat Gimana?

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Kamis, 07 Jul 2022 11:48 WIB
Jokowi Bertolak ke Eropa
Presiden Jokowi (Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan semua negara di dunia tidak berada pada posisi yang aman. Kenapa?

Jokowi menjelaskan hal itu akibat pandemi COVID-19. COVID-19, lanjutnya, hingga kini masih menghantui dunia.

"Semua negara tidak berada pada posisi yang aman-aman saja. Hati-hati mengenai ini. Kita telah dua setengah tahun, dua setengah tahun, menghadapi tantangan berat yang namanya pandemi COVID dan sampai saat ini belum rampung, belum selesai," kata Jokowi dalam Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional Ke-29 di Medan yang ditayangkan melalui YouTube Setpres, Kamis (7/7/2022).

Jokowi mewanti-wanti warga untuk waspada, meskipun kasus COVID-19 di Indonesia tak setinggi negara lain. Sebab, pemulihan ekonomi negara bergantung pada pengendalian kasus.

"Negara-negara lain masih tinggi COVID-nya. Kita alhamdulillah meskipun masih berada pada posisi yang rendah. Inilah tugas kita semuanya untuk mengendalikan, tetap harus waspada. Jangan sampai naik lagi. Karena kalau COVID-nya bisa kita kendalikan, pemulihan ekonomi ini lebih mudah," tuturnya.

Jokowi melanjutkan ketidakamanan dunia saat ini juga dipengaruhi perang antara Ukraina dan Rusia. Jokowi mengungkapkan perang di Ukraina itu membuat harga minyak, gas, dan pangan melambung tinggi.

"Sekarang tambah sulit karena ditambah satu masalah besar, yaitu perang di Ukraina. Hati-hati mengenai perang Ukraina, karena ini menyangkut pangan dan energi, pangan, minyak, dan gas yang akan mempengaruhi semua negara di dunia," ungkap Jokowi.

Jokowi mencontohkan harga minyak di dunia saat ini naik sekitar dua kali lipat. Semua negara bahkan sudah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di wilayahnya.

"Jerman, Singapura Rp 31.000, Thailand sudah Rp 20.000, kita masih Rp 7.650. Karena apa? Karena disubsidi oleh APBN," kata dia.

"Ini kita masih kuat dan kita berdoa supaya APBN tetap masih kuat memberikan subsidi. Kalau sudah tidak kuat mau gimana lagi, ya kan," lanjutnya sembari mengingatkan bahwa Indonesia masih mengimpor separuh dari kebutuhan minyak yang dibutuhkan.

Tak hanya harga BBM, Jokowi mengungkapkan, harga gandum juga melambung tinggi. Padahal Indonesia masih tergantung pada impor gandum dari Ukraina dan Rusia. Dia menuturkan Indonesia tercatat mengimpor 11 juta ton gandum untuk memenuhi kebutuhan warga.

"Karena produksi gandum itu 34% berada di negara itu Rusia, Ukraina, Belarusia. Semua ada di situ. Di Ukraina saja ada stok gandum waktu saya ke sana saya tanya langsung ke Presiden Zelensky, berapa stok yang ada di Ukraina? 22 juta ton stok nggak bisa dijual. Kemudian ada panen baru ini 55 juta ton, artinya stoknya sudah 77 juta ton. Di Rusia sendiri saya tanya ke Presiden Putin, ada berapa banyak stok di Rusia, ada 130 juta ton. Bayangkan berapa ratus juta orang ketergantungan kepada gandum Ukraina dan Rusia," papar Jokowi.

(mae/haf)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT