ADVERTISEMENT

Cerita Puan soal Gelar Doktor Honoris Causa Bung Karno

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 03 Jul 2022 15:27 WIB
Puan Maharani (Wilda Hayatun Nufus/detikcom)
Puan Maharani (Wilda Hayatun Nufus/detikcom)
Jakarta -

Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani menceritakan saat Presiden Indonesia pertama Sukarno atau Bung Karno meraih gelar doktor honoris causa (HC) dari Universitas Berlin pada 23 Juni 1956. Pemberian gelar itu diberikan karena Sukarno dianggap menjadi jembatan yang menghubungkan bangsa-bangsa.

Hal itu disampaikan Puan saat menjadi keynote speaker acara diskusi publik dengan tema 'Bung Karno: Arsitek Kemerdekaan Bangsa-bangsa' yang diselenggarakan di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Minggu (3/7/2022). Diskusi ini digelar dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno 2022.

"Bung Karno bertanya kepada Presiden Universitas Berlin mengapa mereka ingin menganugerahi gelar itu kepadanya. Ternyata Presiden Universitas Berlin mengatakan bahwa menurut mereka Presiden Sukarno telah membuat jembatan yang hebat sekali yaitu a bridge between nation, jembatan yang menghubungkan bangsa-bangsa, jembatan yang membuat bangsa-bangsa dapat bergaul satu sama lain dengan cara yang akrab," kata Puan.

Puan menerangkan aktifnya Bung Karno membangun jembatan antar bangsa itu lah dinilai menjadi sosok arsitek kemerdekaan bangsa-bangsa. Puan mengajak masyarakat untuk menggelorakan semangat membangun tatanan dunia baru yang digagas Bung Karno.

"Menurut saya, dengan Bung Karno yang aktif membangun jembatan antar bangsa, di situlah beliau menjadi arsitek kemerdekaan bangsa-bangsa, dengan semangat membangun tatanan dunia baru. Sebenarnya kita dapat mengajak semangat Bung Karno untuk membangun tatanan dunia baru dan keinginan Bung Karno sejak muda untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia," ujar Puan.

Puan mengungkap, dalam pleidoi Indonesia Menggugat pada 1930 dan pada pidato 1 Juni 1945, sudah jelas bahwa Bung Karno menginginkan kemerdekaan Indonesia dengan dasar falsafah dan ideologi negara Pancasila.

"Maka terlihat sebuah kesinambungan pemikiran Bung Karno tentang tatanan dunia yang baru yang beliau bayangkan dan perjuangkan. Dari pemikiran dan perjuangan Bung Karno, dapat kita lihat bahwa tantangan dunia baru dimulai dengan pembangunan karakter bangsa, yang berdaulat dengan semangat gotong royong yang di dalamnya ada spirit Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, dan cinta tanah air dan bangsa," tuturnya.

Puan mengatakan Bung Karno turut serta membantu negara lain untuk memperoleh kemerdekaan yang kemudian bisa menghelat Konferensi Asia Afrika dengan melahirkan Dasasila Bandung. Tak hanya itu, kata Puan, setiap tempat yang didatangi Bung Karno terjangkit virus untuk menggelorakan semangat nasionalisme, gotong-royong, dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Contohnya para pemimpin Uni Soviet tertular semangat toleransi beragama, ketika masjid biru di Saint Petersburg yang sempat tidak terurus," ujar Puan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menyebut Bung Karno tidak hanya dikenal sebagai seorang arsitek dari sisi fisik, tapi juga kemerdekaan Indonesia dan beberapa bangsa dunia. Bung Karno, sebut Djarot, tokoh yang disegani dunia karena perannya memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

"Jadi Bung Karno ini membangun jembatan 2 sedunia dan kemudian ia membangun suatu kekuatan yang kita kenal sebagai new emergency forces dan kemudian menggelar Konferensi Asia Afrika dan itu yg menggalang kekuatan negara-negara baru dunia untuk melawan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme agar bangsa-bangsa itu merdeka," kata Djarot.

"Untuk itu, maka anak-anak muda harus mau bahwa kita punya pemimpin yang besar yang disegani yang mampu memerdekakan bangsa-bangsa Asia Afrika di sana," sambungnya.

Djarot kemudian membeberkan sejumlah peninggalan Bung Karno berupa bangunan atau gedung-gedung di Indonesia. Misalnya, kata Djarot, patung selamat datang, Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, Monumen Nasional hingga gedung DPR MPR menjadi gedung-gedung buatan Bung Karno.

"Sampai sekarang, itu sebagai suatu warisan yang tiada kunjung habisnya. Jadi karya-karya beliau itu timeless ya," imbuh Djarot.

(whn/isa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT