Ade: Titik Soeharto Jadi Host PD, Propaganda yang Gagal
Rabu, 14 Jun 2006 09:38 WIB
Jakarta - Kehadiran Titik Soeharto sebagai presenter siaran langsung Piala Dunia di SCTV pada 9-11 Juni 2006 dianggap sebagai propaganda yang gagal oleh anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Ade Armando.SCTV yang mengudara di frekuensi milik publik ini dianggap semena-mena menggunakan stasiunnya untuk mempengaruhi opini publik. Demikian petikan wawancara detikcom dengan anggota Ade Armandodi ruang kerjanya, Gedung Bapeten, Lantai 6, Jalan Gajah Mada No 8, Jakarta Pusat, Selasa (13/6/2006). Berikut wawancara lengkapnya:Keberadaan Titik Soeharto sebagai presenter di SCTV itu apakah melanggar etik penyiaran?Masalah utamanya adalah lembaga penyiaran itu menggunakan frekuensi penyiaran milik publik. Kalau kita bicara etika, harusnya semua media massa profesional. Satu standar operasional adalah harus objektif, netral dan tidak berpihak. Tapi pada media cetak, betul-betul menjadi pilihan penulis atau pemilik media cetak, karena mereka tidak menggunakan milik publik, mereka menggunakan media kertas.Ini yang berbeda dengan lembaga penyiaran, terutama yang free to air. Mereka yang diberi amanat menggunakan frekuensi siaran harusnya selalu ingat bahwa mereka tidak boleh semena-mena dan menempatkan kepentingan publik di atas segalanya.Pada kasus Titik Soeharto, sebuah cacat/pelanggaran yang dilakukan SCTV adalah mereka menggunakan frekuensi milik publik untuk propaganda, untuk membangun imej-imej tertentu mengenai tokoh-tokoh yang berkaitan dengan kehidupan politik di Indonesia. Dengan kata lain, dia sudah mem-public-relations-kan sebuah imej politik yang kontroversial. Kita tidak mungkin memisahkan figur Titik dari Soeharto bukan?Saat ini propaganda memang tidak berkonsentrasi di bidang politik saja. Sekarang orang sudah mengubah cara pandang mengenai propaganda. Propaganda sudah masuk ke bidang entertainment, apalagi olahraga yang sudah pasti menarik perhatian publik.Bukankah pemirsa sudah cukup cerdas memahami itu?Nah, itu pertanyaan penting. Pertanyaannya adalah apakah itu propaganda yang cerdas atau tidak? Tidak! Karena Titik (presenter) yang buruk. Kalau misalnya yang tampil adalah yang punya nilai jual, memang punya sesuatu yang menarik pada dia, bahasanya, lucu, cantik, menarik, muda, dan sebagainya. Tapi Titik tidak punya itu. Jadi Titik propaganda yang gagal. Saya baca di milis-milis, banyak orang yang mengejek-ejek Titik Soeharto.Saya merasa dia menjadi korban. Justru menjadi martir bagi keluarga. Dia yang tampil ke depan dan semua orang menertawakan dia. Itu propaganda yang negatif bagi Titik dan SCTV sendiri.Ada jebakan terhadap Titik?Kalau jebakan 'kan sengaja. Menurut saya ini kebodohan. Saya tidak tahu siapa yang mengambil keputusan. Saya yakin para profesional di SCTV pasti menolak keputusan itu. Barangkali orang-orang yang menggagas ini masih ingat masa-masa di Orde Baru dulu. Mau kampanye, TV-TV dimasuki.Tapi sekarang masyarakat sudah berubah. Masyarakat mulai sebal. Lihat saja reaksi masyarakat yang menertawakan sakitnya Soeharto. Kemudian muncul Bambang Tri. Jadi sekarang diimbangkan dengan kehadiran Titik. Padahal Titik tak bisa apa-apa, (sehingga) menjadi kasat mata propaganda.Lihat jawaban SCTV, bahwa Titik mewakili figur ibu rumah tangga. Padahal semua orang tahu, kalau mewakili ibu rumah tangga, banyak yang lain yang lebih cocok. Dia tidak mewakili figur yang membuat ibu-ibu rumah tangga tertarik untuk menonton. Kalau mau menaikkan rating, mengapa tidak Tata (istri Tommy) yang muncul? Jauh lebih tepat Tata atau Mayangsari.Tapi bagi kami di KPI, isu utamanya adalah bagaimana mungkin SCTV itu menyediakan diri untuk propaganda?Apa yang akan dilakukan KPI menyikapi itu?Kita mulai merasa bahwa hukuman masyarakat sudah sangat besar. Kita barangkali mengeluarkan pernyataan yang netral dan umum saja. Bahwa seharusnya media penyiaran tidak ikut mempengaruhi opini publik. Tekanan dari masyarakat sudah sangat keras.
(nrl/)











































