Kantor Playboy di Denpasar Diantre Orang Berobat

Kantor Playboy di Denpasar Diantre Orang Berobat

- detikNews
Selasa, 13 Jun 2006 14:45 WIB
Denpasar - Jangan berharap menemukan kantor Playboy di Denpasar. Rumah di Jalan Tukad Citarum 999 XI Panjer, Denpasar, yang di majalah Playboy ditulis sebagai Playboy Suite, malah diantre orang-orang untuk berobat.Bangunan yang berada di alamat itu adalah aset Ngurah Arta. Dia adalah ketua Perguruan Sandi Murti, sebuah perguruan bela diri.Di lahan seluas 600 meter persegi tersebut, Ngurah Arta mendirikan dua bangunan utama. Bangunan pertama adalah rumah yang ditempati keluarganya. Sedang bangunan kedua merupakan bangunan terbuka.Di bangunan terbuka inilah Ngurah Arta menerima tamu-tamunya. Ada yang hendak belajar bela diri dan ada juga yang ingin dipijat untuk menyembuhkan penyakit. Belasan orang tampak mengantre menunggu giliran. Ada yang tua, ada juga yang muda.Ngurah Arta sendiri adalah orang yang cukup populer di Bali. Dia menjadi komentator di media massa dan juga dikenal sebagai tokoh spiritual.Bisa jadi, karena namanya cukup tenar, Ngurah Arta tak perlu lagi untuk memasang papan nama di depan rumahnya. Tidak ada papan nama yang bertuliskan rumah itu merupakan padepokan Sandi Murti.Ngurah Arta mengaku dekat bagaikan keluarga dengan Erwin Arnada, Pemred Playboy. Bahkan kepindahan Playboy ke Denpasar pun atas sokongan Ngurah Arta. Dia menawari Erwin agar memanfaatkan rumahnya sebagai kantor Playboy di Denpasar.Di edisi kedua, Jalan Tukad Citarum 999 mejeng sebagai alamat kantor Playboy. Tapi yang menarik, di alamat itu juga sama sekali tak ada ciri-ciri sebagai kantor media massa.Tidak ada jajaran komputer, tidak ada kegiatan pemotretan, bahkan tak ada papan nama bahwa alamat itu adalah basecamp Playboy. Yang ada hanyalah kegiatan padepokan plus kegiatan rumah tangga biasa, komplet dengan jemuran pakaian.Lalu aktivitas awak Playboy di situ apa dong? "Nggak ada," jawab Ngurah Arta sembari tertawa saat ditemui detikcom di kediamannya, Selasa (13/6/2006).Ngurah Arta juga tidak terlalu bereaksi dengan penolakan sejumlah pemuka Hindu, maupun keberatan Gubernur Bali, atas munculnya Playboy dari Denpasar."Itu bagus. Cuma mesti harus ditelusuri secara hukum, siapa tahu mereka (Playboy) punya izin (berkantor di Playboy). Proses hukum yang paling perlu. Karena semua orang harus taat hukum. Saya yakin mereka berani di Bali karena mereka pasti punya izin. Kalau tidak, nggak mungkinlah mereka berani seperti itu," beber Ngurah Arta.Ngurah Arta mengimbau tokoh-tokoh yang menolak Playboy di Bali agar menyampaikan sikap secara manis, sehingga tidak memberi angin kepada kelompok tertentu untuk bersikap anarkis. "Kita harus memberi contoh terbaik," katanya.Jika ditolak pemerintah daerah secara resmi apakah Playboy akan tetap di Bali? "Kalau soal kebijakan, tanya saja Playboy. Kalau saya di sini kan hanya soal tanggung jawab tempat," jawab Ngurah Arta. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads