Pekerja Anak Terkait Erat dengan Kemiskinan

Pekerja Anak Terkait Erat dengan Kemiskinan

- detikNews
Selasa, 13 Jun 2006 13:58 WIB
Jakarta - Kemiskinan memiliki korelasi positif dengan maraknya pekerja anak. Banyak anak terpaksa bekerja karena tidak punya biaya sekolah.Demikian hasil survei yang dipaparkan sejumlah serikat pekerja dalam jumpa pers di Hotel Sofyan, Jl Cikini Raya. Jakarta, Selasa (13/6/2006).Mereka yang melakukan survei tersebut adalah Komite Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Komite Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Komite Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), dan International Labour Organisation (ILO). Survei dilakukan di empat kota, yakni Jakarta, Bogor, Surabaya dan Samarinda.Survei dilakukan terkait program workshop nasional serikat buruh untuk membangun kesadaran anggota tentang bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak (BPTA) dan pentingnya akses pendidikan anak.Dijelaskan, survei yang dilakukan menemukan korelasi positif antara kemiskinan, pendidikan rendah dengan kondisi pekerja anak. Dari 794 responden buruh di empat kota itu, 53 persen di antaranya mengeluhkan biaya pendidikan yang sangat tinggi.Sebanyak 65 persen responden mengaku terpaksa memberhentikan anak mereka dari sekolah. Hal tersebut dilakukan karena tidak ada biaya."Ketidakberimbangan antara penghasilan dan besaran biaya pendidikan yang harus dikeluarkan sangat mempengaruhi tingkat putus sekolah anak buruh," kata Halim dari KSPSI.Nursiyah, wakil dari Direktorat Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak Depnakertrans yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, tingginya pekerja anak di Indonesia tidak hanya disebabkan faktor sosial, ekonomi dan kualitas SDM yang rendah."Tapi juga dikarenakan masih rendahnya kesadaran tentang pendidikan oleh para orangtua di daerah-daerah. Banyak orangtua yang menganggap bahwa mencari uang dengan bekerja lebih baik dari bersekolah," ujar Nursiyah. (djo/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads