ADVERTISEMENT

Fadli Zon Bicara Kenaikan Harga Cabai hingga Ancaman Pangan Global

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Minggu, 26 Jun 2022 23:28 WIB
Fadli Zon
Fadli Zon (Foto: Lisye/detikcom)

Soroti Harga Pupuk

Menurut Fadli, tren harga pupuk global terus naik. Dia khawatir hal ini akan menjadi ancaman kepada petani.

"Dampak nyata yang akan segera sampai ke kalangan petani kita adalah soal pupuk. Secara global saat ini harga pupuk trendnya terus-menerus naik. Apalagi sejumlah negara yang menjadi produsen pupuk, seperti Cina, misalnya, kini tengah melakukan restriksi ekspor. Di sisi lain, Rusia dan Iran, dua negara yang merupakan negara produsen gas besar di dunia, yang merupakan bahan baku pupuk, kini sama-sama mendapat sanksi dari negara-negara Barat," sebutnya.

"Saat ini saja FAO sudah memperingatkan bahwa biaya input pertanian, terutama pupuk, akan segera melonjak tajam, sehingga akan memperburuk ketahanan pangan di negara-negara miskin atau berkembang. Bulan Juni ini, menurut data FAO, indeks biaya input pertanian telah mencapai rekor tertinggi. Isu terakhir inilah yang harus membuat kita khawatir," imbuhnya.

Fadli menambahkan kenaikan harga cabai dan bahan pokok lainnya dipengaruhi oleh perubahan iklim dan dinamika politik global. Mengatasi hal ini, kata Fadli, bukanlah hal yang mudah.

"Jadi, kenaikan harga cabai, juga komoditas lainnya, seperti minyak goreng, gandum, jagung, telur ayam, daging sapi, atau pupuk, pada akhirnya harus kita baca sebagai dampak perubahan atas dinamika global, yaitu perubahan iklim dan perubahan rantai pasok pangan akibat ketegangan politik di Eropa. Meskipun dalam beberapa komoditas, selalu saja ada peluang 'mafia' memanfaatkan kesempatan. Ini membuat pekerjaan kita jadi tidak mudah," jelasnya.

Selain itu, Fadli juga menyinggung kenaikan harga gandum dan jagung sejak awal tahun telah mencapai lebih dari 52 persen dan 31,6 persen. Serta, kata dia, harga pupuk non subsidi kenaikannya mencapai 200 persen lebih.

Saran Lakukan Inovasi Pertanian

Guna menghadapi fenomena itu, Fadli mengatakan bahwa pertanian di Indonesia harus melakukan perubahan secara fundamental. Dia menilai sudah saatnya melakukan inovasi pertanian dan meninggalkan penggunaan cara-cara tradisional.

"Menghadapi dinamika semacam itu, mestinya kita melakukan perubahan-perubahan fundamental dalam cara bercocok tanam. Ke depan, kita tak bisa lagi mengelola pertanian ini dengan cara tradisional, sehingga rentan sekali terhadap berbagai perubahan lingkungan. Artinya, kita harus segera melakukan inovasi besar-besaran dalam bidang pertanian. Jika tidak, kita tak akan bisa menghadapi dinamika perubahan global yang mengancam ini," katanya.

"Petani tidak boleh dibiarkan hidup dengan 'teknologi pasrah' seperti yang selama ini berjalan. Tetapi, mereka tak mungkin melakukan perubahan atau inovasi itu sendirian. Pemerintah harus campur tangan sangat besar untuk melahirkan inovasi-inovasi baru itu," lanjutnya.


(lir/dek)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT