ADVERTISEMENT

Mari Bantu Syifa, Anak Penjual Gerabah Idap Gangguan Saraf Otak

Tim berbuatbaik.id - detikNews
Sabtu, 25 Jun 2022 17:01 WIB
Ainur Syifa (11) diderita penyakit gangguan syarat otak. Namun, ia tetap tegar menjalani hidup bersama ibunya, Suryati. Mari donasi sekarang lewat berbuatbaik.
Mari Bantu Syifa, Pengidap Gangguan Saraf Otak yang Bermimpi Jadi Dokter Gigi (Foto: berbuatbaik.id)
Jakarta -

Tak ada wajah murung ataupun putus asa tergambar di air muka Ainur Syifa (11). Padahal gerakannya serba terbatas dan tidak bisa berjalan. Namun di balik ketegaran itu ada Suryati (52), sang ibu yang selalu ada di sisi Syifa.

Suryati lah yang dari dulu tak pernah mengeluh menggendong Syifa, mengajaknya bicara, hingga berbagi suka duka bersama dan hidup berdua saja.

Suryati mengatakan sedari kecil Syifa sudah divonis dokter mengalami gangguan saraf otak yang mempengaruhi perkembangan fisik dan mentalnya. Dia amat ketergantungan pada Suryati untuk aktivitas apa pun.

"Pas mau lahir itu pendarahan hebat sekali. Kakaknya meninggal di kandungan jadi ini juga pertolongan di RS. Setengah jam dia lahir. Pas lahir tidak nangis, seperti orang meninggal. Dokter bilang bu yang sabar, anaknya napasnya satu dua tiga. Dokter kasih pertolongan," ucap Suryati murung.

Hingga kini karena ketiadaan biaya tidak banyak yang dilakukan Suryati untuk menangani kondisi anak keduanya ini. Dia hanya mengandalkan pengobatan alternatif. Selain itu, dengan tekun Suryati juga rajin memberikan fisioterapi untuk anaknya agar ada kemajuan dalam pergerakan Syifa. Walau ada fisioterpi gratis namun Suryati tak mau hanya mengandalkan itu saja. Terapi ini pun harus dia lakukan selama 3 tahun sejak tahun 2019.

"Ada perubahan sedikit. Dia kalau didudukin sudah bisa bangun. Dulu nggak bisa, lemas seperti ini. Tangannya sudah bisa terbuka, dulu menggenggam. Ada harapan tapi memang harus sabar," ungkapnya penuh harap.

Ainur Syifa (11) diderita penyakit gangguan syarat otak. Namun, ia tetap tegar menjalani hidup bersama ibunya, Suryatu. Mari donasi sekarang lewat berbuatbaik.Penampakan rumah Ainur Syifa, bocah pengidap gangguan saraf otak. (Foto: berbuatbaik.id)

Suryati juga sudah terampil memijat punggung Syifa yang bertujuan melemaskan saraf punggung Syifa. Selain itu, Syifa juga dilatih untuk berjalan menggunakan ankle foot orthosis, hasil sumbangan dari orang yang diharapkan bisa melatih telapak kaki Syifa.

Segala upaya dilakukan Suryati untuk menopang hidup dia dan putrinya. Apalagi setelah suaminya menyerah pada Syifa dan memilih pergi. Oleh karena itu, di usianya yang tak lagi muda, Suryati hidup dari membuat gerabah di Desa Tondowulan, Plandaan, Jombang.

"Iya aku taruh di punggung, kalau dulu Syifa masih kecil. Sekarang udah nggak sanggup, dia udah berat," sambung Suryati.

Maka selama bekerja membuat gerabah, Syifa pun diletakkan Suryati di sebuah ember berukuran sedang. Dengan ember ini, Syifa bisa aman dan tidak bergerak ke mana-mana meskipun tubuhnya sudah mulai besar tertekuk dan terlihat tak nyaman.

Kendati begitu, sinar harapan selalu terpancar di wajah polos Syifa. Dalam kondisi yang serba terbatas, Syifa percaya diri mengatakan ingin menjadi dokter gigi. Dengan malu-malu, Syifa pun mengungkapkan jika suatu saat dia ingin mulai bersekolah di SLB. Namun, sampai saat ini kesempatan belum datang. Meski begitu sang ibu pun terus mendukung apapun kemauan putri satu-satunya ini.

"Dari rumah jauh bange.. Harus pakai motor, tapi gak mungkin sekolah, di rumah aja," sebutnya bimbang.

Bagi Suryati, Syifa adalah segalanya sebagai teman bercerita hingga memberikan limpahan kasih sayang. Suryati berharap Syifa selalu ada di sisinya. Sambil menangis, Suryati mengatakan ketakutan dan kekhawatirannya.

"Seandainya diambil jangan aku yaaa. Dia gak punya siapa-siapa, hanya punya aku, gak ada teman, gak ada yang bisa merawat kecuali saya. Dia cuma punya saya, serba sendiri, seperti mandi saya angkat, buang air besar saya angkat. Semuanya," kata Suryati yang tidak bisa lagi membendung air matanya.

Melihat air mata itu, Syifa ikut menangis merasakan kesedihan ibunda. Sekali lagi dia menegaskan bahwa segalanya akan dilakukan untuk ibunya.

"Kalau ibu sudah tua, aku yang kerja, ibu gak usah kerja, aku saja. Jadi dokter gigi, dapat uang banyak kasih mamak," tegas Syifa.

Tak ada yang lebih indah dari ikatan batin ibu dan anak seperti Suryati dan Syifa. Tanpa ayah ataupun suami, keduanya saling menopang dan menjaga walau beban kehidupan kian menghimpit. Hanya mimpi dan harapan hidup lebih baik yang menjaga nyala asa hidup keduanya.

Sahabat baik, rangkul semangat ibu dan anak ini dan dukung mereka dengan Donasi lewat berbuatbaik.id CTARSA Foundation. Caranya dengan klik link di sini.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan.

Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika kamu berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang juga!

Simak juga 'Pahitnya Hidup Bocah Penjual Gulali, Dipalak Preman Hingga Bantu Ekonomi Keluarga':

[Gambas:Video 20detik]



(kny/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT