Teliti Semburan Lumpur Lapindo, Ahli Asal Kanada Didatangkan

Teliti Semburan Lumpur Lapindo, Ahli Asal Kanada Didatangkan

- detikNews
Senin, 12 Jun 2006 15:48 WIB
Jakarta - Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) telah mendatangkan ahli asal luar negeri, Alert, sebuah perusahaan asal Kanada, untuk meneliti penyebab munculnya semburan lumpur dan gas di sekitar lapangan eksplorasi PT Lapindo Brantas.Meski sejumlah ahli asal Kanada sudah melakukan penelitian, hingga kini tim ahli belum bisa menyimpulkan penyebab kebocoran lumpur tersebut."Begitu terjadi kebocoran pada 29 Mei, kita langsung call mereka, 2 sampai 3 hari kemudian mereka datang ke lokasi dan melakukan penelitian," kata Kepala BP Migas Kardaya Warnika kepada wartawan usai rapat konsultasi dengan Komisi VII DPR yang membahas kebocaran lumpur dan gas, di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Senin (12/6/2006).Menurut Kardaya, sebelum didapatkan hasil dari penelitian tim Alert tersebut, lubang kebocoran belum bisa ditutup. Dia juga mengatakan belum bisa menentukan kapan dilakukan proses penutupannya."Jika nanti sudah ditemukan penyebabnya, yang bisa dilakukan adalah membuat sumur baru, yang kemudian diinjeksikan dengan sebuah bahan yang sejenis semen untuk menutup kebocoran tersebeut," katanya.Berdasarkan penelitian awal, sumber semburan lumpur berada 150-200 meter dari sumber sumur pengeboran yang dilakukan Lapindo."Kita belum bisa memastikan apakah ini terjadi oleh gempa atau karena ada kesalahan dalam pengeboran. Namun pengalaman seperti ini sudah pernah terjaid di Arun, di mana sebuah sumur pengeboran bergeser karena gempa," katanya.Ditanya soal kompensasi dan tanggung jawab pihak Lapindo, ia mengatakan memang harus ada yang bertanggung jawab. Akan tetapi akan dilihat dulu dari hasil evaluasi. " Kita tidak bisa main tunjuk ini tanggung jawab siapa," ujarnya.Karena sejak terjadi kebocoran pihak Lapindo sudah melakukan upaya-upaya. Antara lain, lanjut Kardaya, dalam satu pengeboran biasa digunakan lumpur dari luar untuk dimasukkan ke dalam tanah. Karena sistemnya seperti itu, pihaknya melakukan penelitian apakah lumpur yang dimasukkan jenisnya sama dengan lumpur yang keluar sekarang ini. "Setelah kita teliti, ternyata lumpur yang dimasukkan tidak sama dengan yang di sekitar sumur," kata Kardaya. (jon/)


Berita Terkait