Semburan Lumpur Panas Berasal dari Over Pressure Zone
Senin, 12 Jun 2006 14:40 WIB
Malang - Semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo baru kali pertama terjadi di Indonesia. Diprediksi semburan lumpur ini berasal dari over pressure zone (daerah yang mempunyai tekanan tinggi) yang berada di area eksplorasi PT Lapindo Brantas.Prediksi ini disampaikan ahli geologi dari Universitas Brawijaya (Unibraw), Dr Adi Susilo, saat ditemui detikcom di Kampus Unibraw, Malang, Senin (12/6/2006). Kemungkinan adanya over pressure zone ini seharusnya sudah terdeteksi saat PT Lapindo sebelum melakukan pengeboran gas.Biasanya, bila pengeboran mengenai over pressure zone, maka akan keluarlah gas H2S yang mengandung belerang. Namun, yang menarik, yang terjadi di Porong ini tidak hanya semburan H2S, tapi juga lumpur panas."Karena itu, ini merupakan kejadian yang pertama. Sebab, sebelum-sebelumnya hanya mengeluarkan gas H2S saja," ungkap Adi.Adi menilai, kejadian ini merupakan suatu faktor ketidakberuntungan yang menimpa PT Lapindo. "Kejadian ini lebih pada faktor alam. Mereka hanya unlucky," ujar Adi.Informasi yang didapatkan Adi, saat semburan lumpur panas itu terjadi, pengeboran yang dilakukan PT Lapindo baru mencapai kedalaman 6.045 feet. Data seismik yang didapatkan Adi juga menunjukkan bahwa di bawah area pengeboran Lapindo terdapat patahan-patahan kecil lokal."Kalau dikatakan adanya kaitan langsung dengan gempa Yogya, itu tidak. Tetapi gempa itu hanya sebagai pemicu timbulnya banjir lumpur di Lapindo. Saya mengatakan, itu hanya faktor ketidakberuntungan, karena keluarnya lumpur tidak berada di sumur yang dibor, tapi justru keluar di tempat lain," terang dia.Nah, keluarnya semburan lumpur bukan dari sumur yang dibor itulah yang sampai sekarang masih dipertanyakan. "Ketika saya ngobrol dengan teman-teman geolog, sempat dikatakan ada tiga titik patahan yang secara kebetulan arahnya mengarah ke Yogya," kata Adi.Struktur tanah di Lapindo adalah struktur sanak sedimen. Menurut dia, sanak sedimen kalau dilalui gelombang seismik akan bergerak cukup cepat. Selain itu, tanah di area Lapindo mungkin banyak terdapat gelombang-gelombang padat.Lantas, bagaimana cara agar semburan lumpur panas ini bisa berhenti? Adi menyarankan PT Lapindo harus secepatnya menutup lubang sumur yang dieksplorasi itu. Namun, untuk menutup lubang sumur, harus diketahui dulu pusat seismiknya."Jadi, nantinya mereka akan mengetahui secara pasti patahan-patahan yang berada di bawahnya. Kalau itu sudah diketahui secara pasti, dan seandainya nantinya lumpur akan muncul di tempat lain, itu sudah bisa diwaspadai," kata dia.Meski sumur telah ditutup, kata Adi, tidak menutup kemungkinan lumpur akan keluar dari tempat lain. Tapi, dengan cara ini, setidaknya PT Lapindo sudah berusaha untuk menghentikan semburan lumpur panas yang meresahkan warga ini.
(asy/)











































