BP Migas Belum Tahu Penyebab Semburan Lumpur Panas
Senin, 12 Jun 2006 11:54 WIB
Jakarta - Tim investigasi Badan Pelaksanan Kegiatan Hulu dan Gas (BP Migas) masih meneliti sebab-sebab kebocoran sumur gas PT Lapindo Brantas.Dugaan awal, penyebabnya adalah akibat gempa yang di Yogyakarta atau ada kebocoran pada lubang pengeboran."Belum ada hasil yang konklusif. Tim masih terus melakukan penelitian," kata Kepala BP Migas, Kardaya Warnika saat memberikan pemaparan dalam rapat kerja dengan Komisi VII di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/6/2006).Diakui Kardaya, sampai saat ini belum dilakukan upaya penutupan atau penghentian semburan gas dan lumpur. Hal tersebut baru dilakukan setelah penyebab dan letak kebocoran diketahui secara pasti.Secara teknis, penutupan bisa dilakukan dengan mengebor sumur baru dari arah samping. Setelah itu dilakukan penyuntikan sebuah bahan, semacam semen, untuk menutup retakan yang ada.Kardaya mengaku, BP Migas sudah melakukan pengawasan terhadap operasi pengeboran PT Lapindo Brantas sejak 8 Maret 2006. Misalnya evaluasi terhadap data bawah tanah soal kandungan yang terdapat di lapangan. Termasuk juga jika terdapat mineral hidrokarbon."Kegiatan pegeboran telah dilakukan sesuai dengan standard operation procedure (SOP). Sejak semburan pertama, BP Migas juga langsung meminta Lapindo untuk melakukan penutupan aktivitas pengeboran," kata Kardaya.Dalam raker tersebut, sejumlah anggota DPR mengecam BP Migas. Mereka menilai, BP Migas tidak segera melakukan antisipasi agar kebocaran tidak meluas."BP Migas tidak punya aktivitas di lapangan selaku pengawas. Malah masyarakat yang bekerja keras membangun tanggul," kata anggota Komisi VII dari FPDIP Sony Keraf.Tidak hanya itu. Menurut Sony, data di lapangan juga menunjukkan selama ini Lapindo Brantas dan BP Migas tidak melakukan komunikasi terhadap masyarakat. Sebaliknya, ada kesan BP Migas menyalahkan masyrakat.Hal senada disampaikan anggota Komisi VII lainnya, Tias Dyah Iskandar. Dia meminta BP Migas memberikan sanksi yang tegas kepada Lapindo Brantas."Masyarakat yang paling kena dampaknya. Sudah seharusnya BP Migas memberikan hukuman kepada Lapindo Brantas," ujar Tias.
(djo/)











































