Titik Jadi Host PD, SCTV Blak-blakan Bela Cendana

Titik Jadi Host PD, SCTV Blak-blakan Bela Cendana

- detikNews
Minggu, 11 Jun 2006 14:24 WIB
Jakarta - Penunjukan Titik Soeharto sebagai host Piala Dunia (PD) 2006 dinilai sebagai sesuatu yang tidak biasa. Titik bukanlah presenter jempolan. Karena itu, penampilan Titik dinilai sebagai upaya SCTV ikut serta memperbaiki citra Soeharto. Penilaian ini disampaikan pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Ade Armando saat berbincang-bincang dengan detikcom, Minggu (11/6/2006). Menurut Ade, akhir-akhir ini ada usaha propaganda pemulihan citra keluarga Cendana (Soeharto) yang gencar. Salah satu bukti yang kasat mata adalah penampilan kontras Mbak Titik yang dipilih SCTV menjadi host PD. "Kentara sekali Mbak Titik tidak capable bawain Piala Dunia. Orang awam pun tahu ini ada nuansa politis," kata Ade. Menurut dia, SCTV sebagai stasiun televisi pemegang hak siar PD memang berhak memilih siapa hostnya. Tapi kenapa SCTV memilih Titik? Ade meyakini SCTV telah melakukan tindakan yang sangat rendah dengan tujuan propaganda memulihkan citra keluarga cendana."Sangat disayangkan SCTV stasiun besar, tapi sangat telanjang, tanpa malu-malu melakukan propaganda. Ini menakutkan televisi menjadi ajang propaganda pemilik modal maupun orang terdekat pemilik stasiun," ujar anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ini. Upaya memperbaiki citra Soeharto terlihat gencar setelah akhir-akhir ini Kejaksaan Agung (Kejagung) mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3) kasus Soeharto. Keluarga Soeharto juga berkali-kali meminta Soeharto tidak diajukan ke proses hukum. KPI, kata Ade, akan menyeriusi masalah ini. "KPI akan mempelajari seberapa serius arahnya, meski pemilihan host itu masuk dalam grey area. SCTV akan bilang ini haknya, mau milih anak pelawak kek... mau milih anak mantan presiden kek... terserah," cetusnya.Menurut dia, KPI selama ini tidak pernah mengantisipasi munculnya bentuk propaganda yang bukan dalam format tayangan politik, sehingga memang tidak ada aturan yang ketat. "Namun kami telah ingatkan berulangkali, bahwa media jangan terjebak menjadi sarana politis," tegas dia. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads