ADVERTISEMENT

Perjuangan Andi Malewa Melawan Deskriminasi Pengamen Jalanan

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 19 Jun 2022 06:13 WIB
Jakarta -

Tahun 2012, muncul Peraturan Daerah (Perda) kota Depok nomor 16 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum. Salah satu pasalnya terdapat larangan mengamen dan memberi uang pada pengamen.

Saat itu, salah satu pengamen yang terdampak oleh peraturan tersebut adalah Andi Malewa. Sejak meninggalkan kampung halamannya di Makassar pada 2000, ia telah melakoni banyak pekerjaan di Jakarta dan sekitarnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, dengan bekal kemampuan dan kecintaannya pada musik, mengamen menjadi pekerjaan paling masuk akal yang dapat dilakukannya saat itu.

Semasa aktif mengamen, ia melihat sendiri bagaimana para musisi jalanan kerap mengalami diskriminasi. Mulai dari dianggap setara dengan gelandangan dan pengemis, hingga adanya Perda larangan mengamen yang dianggap Andi tidak dapat menyelesaikan masalah.

"Menurut saya itu bentuk kezaliman ya. Kalau peraturan memang ada larangan mengamen, harusnya ada solusinya. Kalau orang dilarang mengamen, misalnya di lampu merah, harusnya ada ruang lain untuk kami berekspresi," terang Andi saat ditemui tim detikcom untuk program Sosok (19/6/22).

Keresahan Andi menyebabkan ia bertekad untuk melakukan perlawanan. Ia tak mau lagi musisi jalanan lekat dengan stigma pengganggu ketertiban masyarakat. Andi ingin menciptakan ruang bagi para musisi jalanan untuk berekspresi tanpa mengalami diskriminasi.

"Kalau kita tidak bergerak, kalau tidak melawan maka selamanya musisi jalanan itu akan masuk dalam Perda Tibum (Peraturan Daerah Ketertiban Umum, red). Kita masuk dalam 18 butir penyandang masalah kesejahteraan sosial, di mana musisi jalanan atau pengamen itu setara dengan pengemis, gelandangan, orang dengan gangguan jiwa," tutur Andi.

Institut Musik Jalanan (IMJ) pun didirikan Andi pada tahun 2014 sebagai solusi dari masalah tersebut. Salah satu hal yang diperjuangkannya di awal pendirian IMJ adalah menerbitkan lisensi untuk musisi jalanan.

Namun, perjuangan Andi dan IMJ sama sekali tak mudah. Berulang kali Andi harus pulang dengan rasa kecewa setelah menemui para pejabat yang diharapkannya mampu memberi solusi. Mau tidak mau, Andi harus mengambil langkah nekat, yaitu mencegat Presiden bagaimana pun caranya.

"Saya cek di semua Kementerian, ternyata profesi musisi jalanan itu tidak ada yang menaungi, itulah yang kemudian membuat saya harus nekat mencegat bapak Presiden sebanyak tiga kali," kenang Andi.

Usaha Andi tak sia-sia. Presiden RI Joko Widodo mengundang Andi untuk bertemu dan di sanalah Andi mengutarakan segala keresahannya mengenai kurangnya ruang berekspresi bagi musisi jalanan. Di tahun 2017, IMJ dipertemukan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan usaha untuk membuat lisensi bagi musisi jalanan mulai menemui titik terang.

IMJ melakukan kurasi kepada para musisi jalanan dengan mengadakan wawancara dan audisi. Mereka yang lolos akan mendapatkan lisensi yang direkomendasikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan.

Musisi jalanan yang terdaftar di IMJ dan lolos audisi akan diberi ruang untuk bermusik di ruang-ruang publik seperti mal, taman, stasiun moda raya terpadu (MRT), dan lain sebagainya. Tak hanya itu, mereka juga diberi ruang untuk meningkatkan kemampuan bermusik lewat kelas-kelas yang diadakan IMJ.

"Kalau kamu mau jadi seorang musisi, IMJ menyediakan ruangnya. Kamu diajarkan bermain musik, di sini banyak 'dosen-dosen' musik yang capable untuk mengajari kamu bermain musik, mereka ikut pendidikannya, pelatihannya, pembinaannya," jelas Andi.

Nama-nama besar di belantara musik Indonesia juga sering singgah sebagai 'dosen' di IMJ. Mulai dari alm. Glenn Fredly, grup band Slank, grup band Padi, alm. Beben Jazz, Inna Kamarie, dan lain-lain.

Melalui pembinaan dan pemberian ruang berekspresi di ruang publik, Andi berharap musisi jalanan yang tergabung di IMJ tak lagi mengamen di zona-zona merah. Bermusik di ruang publik juga menjadi ajang pameran bagi para anggota IMJ. Dari situlah, mereka akan mendapat tawaran manggung dengan harga profesional.

"Misalnya mereka mengamen di mal, saat mereka mengamen hari itu pengunjung bisa sampai 10-20 ribu orang. Dalam satu hari, itu paling sedikit ada tiga yang melihat penampilan mereka dan 'Mbak ini bisa ngga nih kalau diajak untuk isi wedding?' misalnya. Itu yang membuat mereka sudah pasang tarif dan punya harga professional. Institut Musik Jalanan kemudian menjelma menjadi talent management," kata Andi.

Pada tanggal 8 Juni 2022 lalu, IMJ baru saja merayakan hari jadinya yang ke-8. Sudah banyak yang dicapai Andi bersama IMJ untuk mewujudkan keadilan bagi para musisi jalanan, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Namun, Andi tak berniat untuk berhenti segera.

"Itu tadi, agar UU Pemajuan Kebudayaan ini dirasakan sepenuhnya oleh seluruh musisi jalanan di Indonesia. Supaya teman-teman di daerah tahu, hari ini kalian tidak bisa ditangkap semena-mena, sudah ada payung hukum yang lebih tinggi lagi dari peraturan daerah yang melarang aktivitas mengamen dan menyamakan kalian dengan pengemis. Itu PR-nya yang cukup panjang," tutup Andi.

(nad/fuf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT