Ramai PD, Pengungsi Merapi Pilih Tidur
Sabtu, 10 Jun 2006 09:26 WIB
Magelang - Entah karena memang tidak suka sepak bola atau karena sedang berduka, pengungsi Merapi di Magelang tak begitu tertarik nonton piala dunia. Meski disiapkan proyektor, mereka lebih memilih tidur.Hal itulah yang terjadi di TPA (Tempat Pengungsian Akhir) Lapangan Jumoyo, Salam, Magelang, saat laga pembuka piala dunia disiarkan, Sabtu (10/6/2006). Di lokasi nonton bareng piala dunia, SMK Muhamadiyah 1 Muntilan, hanya ada beberapa pengungsi yang menonton even empat tahunan itu.Padahal, pihak sekolah telah menyediakan layar selebar 1,5 x 1,5 meter dan lahan yang cukup luas. Bahkan, pihak sekolah juga memasang tikar dan kursi. Itu semua belum cukup menarik perhatian pengungsi di lokasi tersebut yang jumlahnya sekitar 1600 orang."Mungkin karena kurang sosialisasi saja. Alat dan tempat ini kami sediakan mendadak. Belum banyak pengungsi yang tahu," kata penjaga SMK 1 Muhamadiyah 1 Muntilan, Faisal (29).Faisal tidak tahu apakah acara nonton bareng itu digelar hingga piala dunia usai. Pihaknya mengaku hanya mencoba memberi hiburan saja bagi pengungsi yang sudah berhari-hari tinggal di lapangan dekat sekolah yang ia jaga.Karena kurang sosialisasi, puluhan penonton piala dunia itu sebagian besar justru siswa SMK yang tinggal di dekat sekolah. Hanya ada satu dua pengungsi yang terlihat ikut begadang nonton piala dunia. Itu pun ketika laga Jerman vs Kosta Rika usai, mereka langsung hengkang.Tak ada sorak-sorai begitu gol terjadi. Hanya sesekali, terdengar nada kecewa ketika pemain Jerman maupun Kosta Rika tak jadi melesakkan si kulit bundar ke gawang. Sementara itu, di TPA Tanjung, Muntilan, Magelang, penonton piala dunia malah lebih sedikit. Mereka berkumpul di luar ruang tidur, dimana televisi 14 inci terpasang. Beberapa penonton bahkan terlihat tidur ketika laga dimulai."Ya, mungkin karena tidak suka bola saja. Saya juga tidak begitu suka. Pertandingan liga mana pun tidak menarik. Tapi kalau piala dunia, ya sedikit-sedikit pengen nonton," kata warga Kaliurang, Srumbung, Mardi (39).Bagi sebagian orang, piala dunia memang menu tontonan wajib. Namun bagi pengungsi Merapi di Magelang, mungkin, lain lagi. Tampaknya mereka lebih memilih memikirkan kapan mereka bisa pulang ke rumah atau kapan Merapi tak lagi membahayakan bagi keluarga mereka dari pada harus menghibur diri menonton bintang-bintang sepak bola dunia beraksi.
(wiq/)











































