Heboh Rumah Retak di Eks Ladang Minyak Chevron
Jumat, 09 Jun 2006 09:50 WIB
Pekanbaru - Sekitar 25 kepala kluarga warga Desa Air Jamban, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, mengaku rumah mereka retak-retak. Mereka menuduh hal itu akibat aktivitas penambangan minyak PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Rumah warga ini mulai retak dalam sebulan terakhir. Penyebab pastinya belum jelas, namun sebagian warga menuduh ini ulah penambangan minyak Chevron. Warga menyatakan, telah terjadi penurunan tanah di areal rumah mereka karena di sekitar rumah mereka merupakan bekas ladang minyak Chevron.Lantas warga pun menuntut ganti rugi pada perusahaan asal AS ini. Mereka minta agar rumah-rumah yang retak akibat penambangan minyak segera diganti rugi. Mereka yakin, keretakan pada dinding rumah mereka karena permukaan tanah terjadi penurunan. Pihak perusahaan tidak menanggapi tuntutan tersebut. Menurut Hanafi Kadir, Manager Communications and Media Relations Sumatera PT Chevron Pacific Indonesia, tuntutan warga itu sangat tidak masuk akal. "Keluhan tentang retaknya rumah warga di daerah Air Jamban, Duri, memang sudah disampaikan dan beberapa kali dibicarakan dengan pihak CPI dan pihak-pihak terkait lainnya. Namun sejauh ini belum terbukti dan tidak bisa serta merta saja keretakan itu dituduhkan sebagai akibat kegiatan CPI karena bisa disebabkan oleh banyak hal lain," kata Hanafi. Sesuai hasil penelitian tim independen Universitas Indonesia 10 Februari 2003 lalu, jarak pemukiman dengan sumur produksi CPI terluar sudah lebih dari 50 meter. Ini sesuai dengan undang-undang Mijn Politie Reglement (MPR) 1930 - LN No 341. Bahkan jarak pemukiman dengan sumur tedekat CPI sekitar 115 meter. "Selanjutnya sejak tahun 90-an CPI tidak lagi melakukan pengeboran di daerah itu sehingga dugaan adanya getaran akibat pengeboran di sekitar daerah itu sangat tidak beralasan," kata Hanafi pada detikcom, Jumat (9/6/2006). Begitu juga soal klaim warga terjadinya penurunan tanah akibat penambangan minyak dinilai tidak mendasar. Sebab, kata Hanafi, sesuai dengan teori perminyakan, minyak di perut bumi bukanlah berbentuk gumpalan minyak yang menggenang. Minyak mentah itu berada di celah-celah bebatuan. "Jadi bukan lantas kita mengambil minyak, di bawah permukaan tanah itu terjadi kekosongan yang menyebabkan penurunan permukaan tanah. Karena minyak yang kita sedot itu dari celah-celah bebatuan," kata Hanafi.
(nrl/)











































