ADVERTISEMENT

Bamsoet Bicara Pentingnya Bangun Ketahanan Budaya Bangsa

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Senin, 13 Jun 2022 08:38 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet)
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan pentingnya membangun ketahanan budaya bangsa. Dia mengatakan saat ini Indonesia berada di era disrupsi, yang mana perkembangan zaman dan lompatan teknologi telah menggeser paradigma dalam memandang serta memaknai dunia di sekitar.

Menurutnya, modernisasi menuntut masyarakat untuk bisa beradaptasi. Apalagi derasnya arus globalisasi akibat kemajuan teknologi informasi membuat sekat-sekat teritorial antar negara semakin pudar.

"Di satu sisi, kemajuan teknologi dan modernitas zaman menghantarkan kita pada tatanan dunia baru yang menawarkan simplifikasi dan efisiensi pada semua lini kehidupan. Di sisi lain, nilai-nilai global yang datang silih berganti, menghadirkan tantangan bagi eksistensi nilai-nilai kearifan lokal dan budaya bangsa," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (13/6/2022).

Saat menghadiri pagelaran 'Purnama Puisi di Atas Awan' dalam rangka Lustrum ke-7 Universitas Semarang secara virtual dari Jakarta, Minggu (12/6) malam, Ketua Komisi III DPR RI bidang, Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan fenomena tersebut dapat dirasakan pada maraknya orientasi kehidupan global dalam kehidupan berbangsa yang mengedepankan gaya hidup individualis, hedonis, serta materialistik. Akibatnya, nilai gotong-royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia kian meredup.

"Tidak dapat kita pungkiri bahwa globalisasi telah menjadi pintu masuk bagi paham-paham dan budaya asing. Globalisasi adalah keniscayaan zaman yang tidak mungkin kita hindari. Namun bukan berarti nilai-nilai global tersebut harus kita terima mentah-mentah, tanpa adanya filtrasi dan seleksi," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menilai marginalisasi budaya bangsa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal. Melainkan kurangnya kepedulian dan kepekaan untuk menjaga dan melestarikan budaya juga turut menggerus nilai-nilai kearifan lokal dan budaya bangsa.

"Jika tidak disikapi dengan sungguh-sungguh, maka bukan tidak mungkin, ketahanan budaya kita akan semakin rapuh. Lambat laun kita akan kehilangan satu demi satu akar kebudayaan kita. Entah karena terabaikan, entah karena diklaim oleh bangsa lain, atau hilang pelan-pelan ditelan pusaran peradaban global. Dalam konteks inilah, membangun ketahanan budaya menjadi penting," tegas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila menambahkan konstitusi secara tegas mengamanatkan untuk menjaga ketahanan budaya. Salah satunya melalui Pasal 32 Ayat (1), yang menyebutkan 'Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya'.

Menurut Bamsoet, ketentuan tersebut mencerminkan pengakuan adanya dua peran penting kebudayaan. Yakni membentuk jati diri bangsa, serta menyikapi modernisasi dan laju peradaban zaman.

"Saya mengapresiasi langkah Universitas Semarang yang pada perayaan hari jadinya yang ke-35 tahun mengusung tema mengenai Candi. Candi adalah aset pariwisata dan sekaligus rujukan sejarah peradaban bangsa. Di wilayah Jawa Tengah saja, ada sekitar 54 candi yang tersebar di 11 Kabupaten. Semoga acara ini menjadi bagian dari sumbangsih akademik, dalam membangun komitmen kolektif segenap pemangku kepentingan, agar lebih 'mencintai' candi karena hasrat ingin melestarikan legasi peradaban dan akar budaya yang terkandung di dalamnya. Bukan memaknai Candi hanya sebagai objek eksploitasi," pungkas Bamsoet.

(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT