Puluhan Hektar Padi di Lokasi Gempa Tidak Terurus

Puluhan Hektar Padi di Lokasi Gempa Tidak Terurus

- detikNews
Kamis, 08 Jun 2006 10:41 WIB
Klaten - Puluhan hektar tanaman padi di Kecamatan Wedi dan Kecamatan Gantiwarno terlantar akibat gempa. Banyak tanaman padi telah melewati masa panen tidak diurus pemiliknya. Demikian juga benih yang telah siap tanam. Pemiliknya ada yang meninggal, sakit, atau pun tidak sempat lagi turun ke sawah. Di Kabupaten Klaten, dua kecamatan itu adalah lokasi yang paling parah mengalami kerusakan akibat gempa 27 Mei lalu. Sebagian besar mata pencaharian warga kabupaten yang merupakan salah satu daerah lumbung padi nasional tersebut, termasuk di kedua kecamatan, adalah bertani. Dari pantauan detikcom, Kamis (8/6/2006), puluhan hektar tanaman padi di kedua kecamatan itu telah melampaui masa panen. Idealnya tanaman padi dipanen pada usia 120 hari. Namun karena telah melewati waktu, banyak tanaman padi yang telah mengering sehingga roboh dan bulir-bulir biji padinya lepas dari tangkai. Hal serupa juga terjadi pada tanaman padi yang sedang dalam masa pertumbuhan. Banyak areal terlantar. Gulma di sela-sela tanaman padi tidak ada yang menyianginya, padahal keberadaan gulma sangat mengganggu pertumbuhan dan hasil. Serangga juga terlihat berdatangan di areal pertanian. Demikian pula dengan tanaman bibit padi. Seharusnya pada usia 25 hingga 30 hari, bibit tersebut sudah harus dipindahkan atau ditanam di lahan yang telah disediakan. Namun karena kondisi warga yang tidak memungkinkan, bibit tetap dibiarkan di lokasi persemaian hingga batangnya sudah cukup tinggi. Di Desa Kerten, Gantiwarno, pemandangan tersebut dapat ditemui di sejumlah areal lahan sawah. Kepala Desa Kerten, Sihono, mengatakan warga terpaksa menelantarkan garapannya itu karena tidak memungkinkan untuk melakukan panen padi dalam kondisi seperti saat ini. "Ada pemiliknya yang meninggal ada pula yang masih dirawat di rumah sakit. Sedangkan yang selamat juga tidak memungkinkan untuk melakukan panen atau merawat tananam karena masih hidup di pengungsian. Saat gempa terjadi sebetulnya warga berencana memulai panen maupun tanam," ujar Sihono. Demikian juga yang dipaparkan oleh oleh Yulianto, salah seorang petani warga Desa Mlese, Gantiwarno. Dia mengatakan lahan tanaman padi yang terlantar itu merata terjadi di desanya baik pada lahan yang pemiliknya meninggal maupun pada lahan yang pemiliknya selamat. "Saya kira hal itu juga terjadi di ratusan hektar lahan padi di Klaten yang berada di lokasi korban gempa. Warga korban tidak akan mungkin bisa menyempatkan diri mengurus sawah karena bisa bertahan hidup saja harus berjuang dengan susah-payah. Apalagi bagi yang pemilik lahannya meninggal," keluhnya. Kecamatan Gantiwarno memang merupakan daerah yang cukup parah akibat gempa. Tercatat 331 warganya meninggal dan ratusan lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit. Kerusakan bangunan tercatat 7.292 rumah roboh, 2.615 rusak berat dan 1.558 mengalami kerusakan ringan. Klaten selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan lumbung padi nasional. Tragisnya korban terparah akibat gempa di kabupaten ini adalah daerah lahan pertanian utama di kabupaten tersebut seperti Prambanan, Gantiwarno, Wedi, Trucuk, Juwiring, Cawas, Bayat, dan beberapa kecamatan lainnya. (nrl/)


Berita Terkait