ADVERTISEMENT

Partai Garuda Kritik Narasi Ketua DPD RI soal Isu People Power

Dea Duta Aulia - detikNews
Rabu, 08 Jun 2022 16:17 WIB
Waketum Partai Garuda Teddy Gusnaidi
Foto: (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Partai Garuda mengkritik Ketua DPD RI LaNyalla Mattallitti yang mengangkat isu people power terkait gugatan Presidential Threshold yang diajukan DPD RI ke Mahkamah Konstitusi. Waketum Partai Garuda Teddy Gusnaidi menganggap LaNyalla tak tahu aturan.

Sebelumnya, LaNyalla mengatakan wacana people power dikemukakan sebagai pengandaian kalau Mahkamah Konstitusi menolak penghapusan Presidential Threshold 20 persen atau tidak mencabut Pasal 222 di dalam UU Pemilu. Narasi tersebut diungkapkan LaNyalla saat Dialog Nasional Peringatan 25 Tahun Mega-Bintang bertema Kedaulatan Rakyat versus Oligarki dan KKN, di Solo, Jawa Tengah, Minggu (5/6).

LaNyalla mengatakan jika MK menolak, kemudian rakyat ingin people power, maka dirinya tidak berhak menghalangi.

"Apa hubungannya menggugat Presidential Threshold ke MK dengan people power untuk menghentikan pemerintahan Jokowi? Ketua DPD LaNyalla menarasikan jika gugatan terkait Presidential Threshold ditolak MK kemudian rakyat ingin people power, dirinya tidak berhak menghalangi. Ini narasi macam apa?" kata Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi dalam keterangan tertulis, Rabu (8/6/2022).

Menurut Teddy, sebagai pejabat negara seharusnya LaNyalla mengetahui bahwa MK adalah produk konstitusi dan putusannya bersifat final mengikat.

"Pernyataan LaNyalla selain merasa pemilik atas kebenaran tafsir di negara ini, juga menjelaskan tentang people power terhadap eksekutif. Padahal pemerintahan Jokowi itu ada di lembaga eksekutif, sedangkan MK adalah lembaga yudikatif. Mungkin beliau pikir MK itu berada di bawah kekuasaan Jokowi, di lembaga eksekutif," kata Teddy.

Teddy menyarankan harusnya LaNyala mengeluarkan narasi yang sehat terkait gugatan tersebut. Sebab jika narasi yang tidak baik bisa berdampak negatif di tengah masyarakat.

"Tapi tentu narasi yang dibuat harus yang sehat, jangan hanya asal bunyi demi mendapatkan sensasi. Itu bukan hal yang patut dicontoh, karena bisa menimbulkan efek negatif di masyarakat," tutup Teddy.

(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT