Gus Dur: Pamor RI Sudah Runtuh

Soal Tudingan PM Timor Leste

Gus Dur: Pamor RI Sudah Runtuh

- detikNews
Rabu, 07 Jun 2006 13:07 WIB
Jakarta - Indonesia dianggap sudah tidak punya pamor lagi. Buktinya, negara kecil seperti Timor Leste bisa menuding seenaknya bahwa RI terlibat kerusuhan di negara tersebut.Turunnya pamor RI itu disampaikan mantan Presiden Gus Dur dalam pidatonya di acara Nusantara Menggugat di Gedung Joeang '45, Jalan Menteng Raya, Jakarta, Rabu (7/6/2006).Semula Gus Dur mempertanyakan sikap pemerintah yang dinilainya tidak punya prioritas. Belum lagi korupsi yang menjamur di mana-mana akibat sikap tebang pilih pemerintah.Pemerintah, kata Gus Dur, selalu mengaku telah memberantas korupsi, padahal tidak. Mengaku tidak pernah tebang pilih, padahal jelas-jelas tebang pilih."Orang dari Timor Timur saja berani bilang Indonesia yang mendorong kerusuhan yang terjadi di sana. Ini bagaimana? Negara 'emprit' kok berani nabrak burung Garuda! Itu artinya kita tidak punya kewibawaan lagi. Pamor kita runtuh!" tegas Gus Dur. Kondisi ini, kata Gus Dur, bisa terjadi karena pimpinan kita sudah tidak bisa dipercaya lagi.Kekuatan Rakyat HilangSebelumnya Gus Dur sempat menceritakan bahwa Indonesia pernah mengalami suka duka panjang setelah ada pemilu yang dicurangi penyelenggara di awal pemerintahan Orba sehingga menyebabkan hilangkan kekuatan rakyat. "Saya tadinya mengira setelah reformasi, itu akan berakhir. Tapi ternyata tidak," katanya.Diakui Gus Dur saat itu memang ada pembaharuan, tapi dicuri orang. Karena sedianya rakyat akan mendapat pemimpin yang demoktaris."Tapi apa boleh buat reformasi telah dicuri orang. Yang dibangun pemerintah saat ini bukan sebuah sistem, tapi banyak (sistem). Kelihatannya satu tapi tidak. Ini sebab dari kesalahan kita semua," tuturnya. Globalisasi, imbuh Gus Dur, menjadi pemicu itu semua. Karena pemimpin nasional terlalu ketakutan pada globalisasi, sehingga terjadi reaksi yang berlebihan.Pertama munculnya fundamentalisme yang mengancam persatuan dan kesatuan. Kemudian pluralitas dicoba dipasung. Dia lalu mencontohkan soal RUU APP. Dalam RUU itu, masyarakat diarahkan pada pola hidup tertentu. "Saya yang beragama Islam dan dari ponpes aja tidak terima, apalagi yang lain. Bhinneka Tunggal Ika hanya tinggal fatamorgana saja, terjadilah pemaksaan-pemaksaan kehendak yang justru dibiarkan saja oleh pemerintah dan aparat," ujarnya.Hal itu terbukti dari sikap aparat yang membiarkan orang-orang petantang petenteng di jalanan. Padahal itu jelas-jelas melanggar UU.Prioritas pemerintah dianggap Gus Dur juga tidak jelas. Pemerintah lebih meributkan visa yang diberikan Australia kepada 42 warga Papua ketimbang memberi makan berjuta orang yang kelaparan."Saya nggak ngerti skala prioritas pemerintah itu di mana," kritiknya. (umi/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads