ADVERTISEMENT

Bamsoet Ajak Implementasikan Nilai Pancasila di Kehidupan Bermasyarakat

Hanifah Widyas - detikNews
Kamis, 02 Jun 2022 16:18 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Ketua MPR RI Bambang bersama Pendiri Institut Filsafat Pancasila Yoseph Umarhadi Soesatyo menyelenggarakan Saresehan Pancasila. Hari Lahir Pancasila sendiri jatuh dan diperingati setiap tanggal 1 Juni.

Dalam pembukaan acara yang dilaksanakan di Gedung Nusantara IV MPR/DPR/DPD RI tersebut, Bamsoet menekankan perayaan tersebut tidak boleh sekadar ramai dalam diskusi tetapi sepi dalam pelaksanaannya.

"Pancasila tidak boleh hanya diekspresikan sebatas klaim kehebatan dalam ritual pernyataan dan pidato atau diajarkan sebatas hafalan sejumlah butir moralitas, melainkan harus diimplementasikan dalam sikap hidup keseharian. Toleransi dan tenggang rasa, misalnya, merupakan bagian kecil dari wujud sikap Pancasila yang harus dimasifkan dalam kehidupan keseharian setiap anak bangsa," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (2/6/22).

Ia menjelaskan akan segera terbayang adalah kebesaran, keluasan, dan kemajemukan bangsa Indonesia ketika membicarakan Pancasila dengan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Orang asing yang terbang di wilayah Indonesia pasti mengira dirinya sedang melintasi begitu banyak negara.

Sebagai contoh, saat terbang dari Sabang menuju Merauke kita akan melintasi 17.504 pulau dengan melewati tiga zona waktu yang berbeda. Sulit dibayangkan kalau perjalanan tersebut hanya melintasi satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dihuni oleh 1.340 suku bangsa dengan 733 bahasa daerah yang berbeda, adat istiadat yang berbeda, serta dengan agama dan keyakinan yang berbeda-beda pula.

"Para Pendiri Bangsa berhasil menjadikan perbedaan sebagai sebuah akar untuk persatuan dan meletakkannya sebagai ruh bagi perjuangan dalam mewujudkan sebuah identitas perjuangan bangsa. Anugerah tersebut mengisyaratkan perlunya menghargai kemajemukan sebagai kekayaan dan kekuatan bagi bangsa Indonesia," imbuhnya.

"Karenanya, kerukunan haruslah menjadi kebutuhan bagi kita karena kebhinekaan adalah elemen pembentuk bangsa. Kebhinekaan bukan hanya fakta sosiologis yang hanya diterima sebagai sesuatu yang given tetapi harus terus menerus diperjuangkan," lanjut Bamsoet.

Bamsoet juga menerangkan bangsa Indonesia patut bersyukur karena memiliki identitas yang berbasis pada nilai-nilai luhur ke-Indonesia-an. Identitas tersebut berakar pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa ini dapat bertahan dan hadir hingga sekarang berkat alasan dan tujuan yang terdapat dalam empat konsensus dasar bangsa tersebut.

"Gagasan menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) yang dirintis MPR selain dalam rangka menjamin kesinambungan dan keterpaduan pembangunan antarperiode kepemimpinan tanpa bergantung pada momen elektoral, juga untuk mengaktualisasikan Pancasila ke dalam kerangka operatif dengan cara mempertemukan nilai-nilai luhur falsafah bangsa dengan aturan dasar yang diatur dalam konstitusi," paparnya.

"PPHN dengan paradigma Pancasila ini akan menjadi arahan dalam pencapaian tujuan bernegara, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur," pungkas Bamsoet.

Perayaan tersebut dihadiri oleh Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Prof. Frans Magnis Suseno, cendekiawan Yudi Latif, serta aktivis yang mewakili generasi muda milenial Cinta Laura. Selain itu, turut hadir pula, antara lain Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Saiful Hidayat, Ketua Badan Penganggaran MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Golkar MPR RI Idris Laena.

(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT