Suyono Terpaksa Jual Kasur

Kisah Korban Gempa

Suyono Terpaksa Jual Kasur

- detikNews
Selasa, 06 Jun 2006 19:05 WIB
Klaten - Suyono sebelumnya mungkin tidak pernah membayangkan dia akan berjualan kasur. Namun untuk menyambung hidup, dia terpaksa melakukannya, karena merasa belum ada bantuan apa pun dari pemerintah yang sampai kepadanya.Suyono adalah warga Gatak Krun, Desa Pasung, Wedi, Klaten. Di depan reruntuhan rumahnya, dia memajang semua barangnya yang masih utuh dari mebel, tempat tidur, lemari, sepatu, sepeda kayuh hingga kasur. "Untuk menyambung nyawa," jawab Suyono singkat saat ditanya apa motivasi dia melakukan itu. Barang-barang itu dijual layaknya diobral saja olehnya. Namun demikian bukan hal yang mudah juga mencari pembeli di lokasi bencana seperti itu. Hingga Selasa (6/6/2006) siang dia baru bisa menjual dua bauh kasur. "Uang dari hasil penjualan barang-barang ini ya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, karena belum pernah sekali pun kami menerima bantuan dari pemerintah. Selama ini ya kami sekeluarga hanya makan mie instant dan air mineral yang kami dapat dari pemberian simpatisan yang lewat," ujarnya. Menolak BantuanLain lagi yang dilakukan oleh Warga Jambakan, Bayat, Klaten. Jika Suyono berharap ada bantuan pemerintah, warga Jambakan justri menolak dibantu pemerintah. Alasannya, birokrasi pengambilan bantuan berbelit-belit dan dianggap mengada-ada dalam kondisi darurat. Untuk mengambil bantuan di Kantor Desa, warga harus menunjukkan KTP, Kartu Keluarga serta mendapat persetujuan Ketua RT. Persyaratan ini dianggap mengada-ada dalam kondisi darurat karena sebagian besar warga kehilangan semua surat berharga yang tertimbun di dalam rumah mereka yang runtuh. "Persyaratan itu sangat memberatkan kami. Karenanya kami memutuskan untuk tidak mengambil bantuan yang ditawarkan oleh pemerintah. Apalagi setelah kami mencari tahu, ternyata bantuan yang ditawarkan itu tidak sebanding dengan jumlah warga yang membutuhkannya," ujar Yusuf, warga setempat. Karenanya, hingga saat ini Yusuf dan sekitar 200 orang tetangganya belum pernah menerima bantuan pangan, alat untuk membersihkan reruntuhan atau pun bantuan berupa apa pun dari pemerintah. Mereka memilih mendirikan dapur umum secara swadaya dengan bahan makanan seadanya yang diterima dari bantuan ara kerabat di luar daerah maupun dari simpatisan yang datang membagi-bagikan bahan pangan kepada warga korban. "Setiap ada warga kami yang menerima bantuan mie instant, beras, atau apa pun bahan pangan lainnya lalu kami kumpulkan untuk dikelola bersama. Nasi yang tidak tersisa kami keringkan untuk cadangan pangan kalau nanti sampai kehabisan bahan pangan," ujar Yusuf. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads