Tak Ada Istilah 'Nggak Enak' bagi Ketua KPK

Tak Ada Istilah 'Nggak Enak' bagi Ketua KPK

- detikNews
Selasa, 06 Jun 2006 14:25 WIB
Tak Ada Istilah Nggak Enak bagi Ketua KPK
Jakarta - Di balik wajahnya yang tegas, Taufiequrrahman Ruki, ternyata adalah seorang yang humoris. Pensiunan jenderal polisi ini cukup lucu. Bagi pria yang menjabat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, tidak ada istilah 'nggak enak'. "Jadi pejabat sekarang ini, enak. (Terdiam sesaat). Tapi, jadi pejabat saat Orde Baru, oooh enak sekali," kata Taufieq saat membuka obrolan dengan para pimpinan media massa di Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Senin (5/6/2006) malam. Omongan Taufieq ini jelas membuat tamu yang hadir tertawa terpingkal-pingkal. Bagi dia, tidak ada istilah 'gak enak' untuk menjadi pejabat. Yang ada, hanyalah istilah 'enak' dan 'enak sekali'. Karena Taufieq adalah 'bos' lembaga pemberantasan korupsi, maka pernyataannya ini juga terkait dengan pemberantasan korupsi yang digalakkannya. Dulu, pejabat di era Orde Baru tidak pernah berpikir akan masuk penjara, meski melakukan korupsi. Tapi, pejabat di zaman sekarang, tentu was-was. Jantung pejabat terus dag dig dug. Bila pejabat macam-macam dan berani melakukan korupsi, maka tinggal di hotel prodeo akan mengancamnya. "Sekarang ini sudah banyak orang yang tidak berani menjadi pimpro, karena takut," ujar Taufieq. Selanjutnya, Taufieq mengaku merasa gundah karena ada pemberitaan bahwa popularitas KPK turun. Ini gara-gara KPK tidak melakukan penangkapan koruptor yang luar biasa. "Selain melakukan penangkapan-penangkapan, kita juga melakukan upaya-upaya pencegahan. Pencegahan juga penting dalam pemberantasan korupsi. Ini yang tidak pernah diberitakan di media massa," kata Taufieq beralibi. Meski begitu, Taufieq paham, ekspektasi masyarakat terhadap KPK yang paling utama adalah penangkapan koruptor yang masih berkeliaran. Apalagi hingga saat ini, KPK sudah menerima 12.600 pengaduan. "Jadi, kita akan terus tangkap, tangkap, dan tangkap," janji pejabat yang berpakaian sederhana ini. Bagi Taufieq, korupsi di Indonesia tidak bisa diberantas dalam jangka 4 tahun. "Yang bisa kita lakukan adalah mereduce (mengurangi) tindak pidana korupsi," kata dia. Sejak Taufiq memimpin KPK, indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia naik dari 1,9 menjadi 2,2. Tapi IPK ini masih jauh dibanding Malaysia yang sudah berada pada posisi 4,5. Untuk memberantas korupsi, Taufieq juga berharap peran pemimpin negeri ini. "Kita lihat Singapura. Begitu Lee Kuan Yew menjadi pemimpin, dia langsung bergerak memberantas korupsi. Dan hasilnya luar biasa sekarang," ujar dia. Lantas apakah pemimpin negeri ini sudah bertindak seperti Lee Kuan Yew dalam memberantas korupsi di Singapura? Taufieq hanya mesem, tidak mau menjawab. Tapi, seusai acara, orang asal Bantul ini berbisik kepada detikcom, "dereng". (asy/)


Berita Terkait