ADVERTISEMENT

Perspektif

Nasionalisme Negatif Netizen Indonesia, Sungai Aare Jadi Korban Terbaru

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 30 Mei 2022 17:52 WIB
TOPSHOT - Young men jump into the river Aare on June 21, 2017 in Bern.

Europe sizzled in a continent-wide heatwave with London bracing for Britains hottest June day since 1976 as Portugal battled to stamp out deadly forest fires. Cooler weather was aiding their efforts, but thermometers were still hovering around 35 degrees Celsius (95 degrees Fahrenheit) -- a level matched across oven-like swathes of Europe, including Italy, Austria, the Netherlands and even alpine Switzerland. / AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI        (Photo credit should read FABRICE COFFRINI/AFP)
Sungai Aare (Fabrice Coffrini/AFP via Getty Images)
Jakarta -

Polah warganet Indonesia kembali menjadi sorotan negara lain. Terbaru, media Swiss menyoroti review negatif netizen Indonesia terhadap sungai Aare, lokasi hanyutnya putra Ridwan Kamil. Reputasi netizen Indonesia memang sudah sejak beberapa tahun lalu dikenal publik dunia. Gejala apa ini?

Di tengah pencarian putra Ridwan Kamil bernama Emmeril Khan Mumtadz, netizen Indonesia disorot media lokal Swiss karena memberi ulasan buruk pada sungai Aare di Google. Netizen Indonesia memberi satu bintang saja untuk sungai yang menjadi lokasi wisata itu. Sungai itu disebut netizen Indonesia sebagai sungai berbahaya dan layak ditutup.

Belum lama pula, Instagram Kedutaan Besar Inggris di Jakarta juga diserbu netizen. Netizen pembela Ustaz Abdul Somad (UAS) juga menyerbu akun Presiden Singapura dan Perdana Menteri Singapura.

Mundur ke 2021, warganet Indonesia menyerbu Instagram Microsoft. Ini bak buruk muka cermin dibelah. Sebelumnya, Microsoft merilis hasil riset yang menunjukkan netizen Indonesia adalah netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Laporan itu bertajuk 2020 Digital Civility Index (DCI) atau Tingkat Kesopanan Digital 2020.

Ada apa dengan netizen kita?

Keberingasan netizen Indonesia muncul tatkala berinteraksi dengan isu-isu yang menyangkut negara lain. Seolah-olah, negara lain adalah musuh nyata dan tiap netizen adalah tentara. Nasionalisme seperti terusik bila Indonesia terlihat negatif atau warga Indonesia dirugikan di mata negara lain.

"Ini adalah nasionalisme yang negatif. Bukan begini seharusnya nasionalisme. Seharusnya, tampilkanlah bangsa kita sebagai bangsa yang bisa berterima kasih, bukan malah menghujat, mem-bully. Kita tidak boleh bangga dengan sikap itu," kata pakar media sosial serta analis media sosial Drone Emprit and Kernel Indonesia, Ismail Fahmi, membagikan perspektifnya, Senin (30/5/2022).

Ismail Fahmi dalam program blak-blakanIsmail Fahmi (20detik)

Ismail Fahmi sedang mengomentari netizen yang mengulas negatif sungai Aare, baru-baru ini. Padahal, pihak Swiss juga membantu mencari putra Ridwan Kamil di sungai Aare. Seharusnya, netizen bisa lebih santun. Lebih dari itu, secara umum, polah netizen kita adalah cerminan kenyataan di masyarakat. Indonesia perlu mengubah perangai netizen Tanah Air. Namun pertama-tama, kita perlu mengakui dulu bahwa kita memang punya masalah itu.

"Harus diakui, ini cerminan kita. Ini kekurangan yang harus diperbaiki lewat pendidikan," kata Fahmi.

Dia menyarankan agar Indonesia mengadopsi Digital Citizenship Curriculum atau Kurikulum Kewargaan Digital yang disusun Common Sense Media, organisasi nonprofit. Netizen beringas bukanlah modal sosial, melainkan suatu kekurangan yang harus diperbaiki.

Pakar komunikasi digital yang mengajar Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, menilai perangai netizen bukanlah cerminan wajah asli masyarakat Indonesia. Pemberian rating satu bintang pada sungai Aare dinilainya justru sebagai sikap yang tidak simpatik terhadap upaya pencarian putra Ridwan Kamil.

"Alih-alih, diterima sebagai sikap prihatin, pemberian rating itu justru bisa memosisikan netizen Indonesia sebagai sekelompok masyarakat yang berpendapat tanpa data dan fakta," kata Firman Kurniawan, dalam keterangannya secara terpisah.

Pakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono MsiPakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono, MSi. (Foto: Dok. Istimewa)

Padahal sebelumnya, survei Microsoft tahun 2020 sudah menunjukkan bahwa netizen Indonesia termasuk netizen yang paling tidak sopan. Efek di dunia internet bisa merembet ke dunia nyata, relasi pergaulan global.

"Ulah sebagian kecil netizen Indonesia ini, kemudian dapat menjadi stigma terhadap rendahnya civilization (keberadaban), masyarakat Indonesia. Tentu ini akan merugikan netizen Indonesia yang bersikap baik," kata Firman.

Dia mengutip survei Wilay and Sons Publishing, yakni Digital Gap Skill Index 2021. Survei itu memotret keterampilan individu di segala bidang digital. Indonesia berada di peringkat ke-47 dari 113 negara yang disurvei. Singapura sebagai negara terbaik dengan 'skill gap index' terendah. Negara perlu memperhatikan kondisi netizen kita.

"Apakah kita telah membangun budaya-budaya pendukung teknologi dengan serius? Bahwa setiap ada teknologi dan platform baru masyarakat kita cepat menyerapnya, itu satu prestasi. Tapi menggunakan dengan cara yang tepat itu persoalan selanjutnya. Itulah yang akan membedakan kemampuan penggunaan media sosial Indonesia dengan negara lain," tandas Firman.

Simak Video 'Sungai Aare di Google Maps Dibanjiri Review Negatif Netizen Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT