In Memoriam

Buya Syafii Maarif dan Tongseng Persatuan NU-Muhammadiyah

Sudrajat - detikNews
Jumat, 27 Mei 2022 16:33 WIB
Mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif dan Ulil Abshar Abdalla di Masjid Nogotirto, Sabtu (29/12/2018)
Ulil Abshar Abdalla sowan ke Buya Syafii Maarif, 29 Desember 2018 (Sudrajat/detikcom)
Jakarta - Batal mewawancarai GKR Hemas di Keraton Yogyakarta pada Sabtu pagi (29/12/2018), Pemimpin Redaksi detikcom Iin Yumiyanti meminta Tim Blak-blakan detikcom mencari narasumber pengganti agar tidak kembali ke Jakarta dengan tangan hampa. Alternatifnya adalah mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Buya Ahmad Syafii Maarif. Sehari sebelumnya, Buya berjumpa dengan tokoh NU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) selepas salat Jumat di Masjid Nogotirto, Sleman.

Menjelang Asar, kami merapat ke Nogotirto. Di masjid itulah Buya biasa menunaikan salat lima waktu. Tak lama setelah wirid pasca-salat berjemaah, Buya keluar dari masjid. Kami dengan sigap menghampiri dan menyampaikan maksud untuk mewawancarainya. "Oh ya, boleh, ayo kita di sini saja," ujar Buya ramah sambil menuju ke pojokan selasar. Seorang remaja tanggung segera menyorongkan kursi plastik untuk tempat Buya duduk. Tapi, begitu tahu wawancara direkam kamera video, Buya meminta agar waktu diundur ke bakda Magrib.

Prof Buya Syafii Maarif menjami intelektual NU Ulil Abdshar Abdalla dan isterinya Iemas Tsuroiya, serta teman-temannya usai salat Isya di Masjid Nogotirto, Sabtu, 29 Desember 2018Prof Buya Syafii Maarif, Ulil Abshar Abdalla dan istrinya Iemas Tsuroiya, serta teman-temannya menyantap tongseng seusai salat Isya di Masjid Nogotirto, Sabtu, 29 Desember 2018. (Foto: dok. Iemas Tsuroiya)

Singkat cerita, wawancara dimulai ketika sebagian besar jemaah salat Magrib telah meninggalkan masjid. Selain membicarakan soal kesehatan dan hobinya bersepeda, Buya mengungkapkan pandangannya soal ditarik-tariknya agama ke kontestasi politik. Penulis buku 'Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita' itu menyebut klaim-klaim atas nama agama dalam berpolitik melawan akal sehat dan martabat kemanusiaan yang waras.

Sikap ini jelas jauh berbeda dengan apa yang diperlihatkan sahabatnya yang lebih dulu memimpin Muhammadiyah, Prof Amien Rais. Meski begitu, Prof Syafii menyatakan tetap menghormati sepak terjang seniornya itu.

Di bagian lain, guru bangsa yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Ohio dan doktoral dari Universitas Chicago itu juga menjelaskan kritik-kritik tajamnya terhadap tindak tanduk Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman.

Wawancara lebih dari setengah jam itu sejatinya berlangsung dalam dua sesi. Kami rehat ketika azan Isya berkumandang. Di momen yang sama, rupanya di dalam masjid telah hadir intelektual NU Ulil Abshar Abdalla bersama istrinya, Ienas Tsuroiya, serta kolomnis Iqbal Aji Daryono. Mereka datang ditemani dokter ahli anestesi Ahmad Muttaqin Alim.

Saat ikamah berkumandang, Buya Syafii meminta dengan sangat agar Ulil yang NU bersedia menjadi imam salat Isya. Sebaliknya, Ulil yang sadar betul berada di tengah-tengah jemaah Muhammadiyah dengan halus menampik permintaan tersebut. Sejurus kemudian Buya memberi isyarat agar imam yang telah bersiap di barisan terdepan mundur. Lantas didorongnya Ulil yang tampak sungkan ke depan. Sekilas Ulil mengalah. Tapi, begitu Buya bergeser menuju kursi plastik, giliran imam yang semula mundur ditarik Ulil untuk tetap menunaikan tugas seperti biasanya. Buya dan jemaah pun tersenyum-senyum.

Memasuki wawancara sesi kedua, rupanya kami sama-sama alpa. Kacamata saya masih tertinggal di tempat wudu, sementara kacamata Buya mungkin tersimpan di saku kemeja kokonya. Kami baru menyadarinya setelah wawancara usai. Ketika kami mengemasi kamera, lampu, dan peralatan lain, Buya menghampiri kami. "Saya ndak mau tahu, pokoknya kalian jangan pergi. Kita makan tongseng dulu," ujar lelaki kelahiran 31 Mei 1935 itu penuh wibawa.

Ketika menu tersebut terhidang, Ulil sempat takjub melihat Buya masih terlihat nikmat menyantap tongseng. Buya sendiri menjelaskan, pada usianya yang sudah lewat 80 tahun saat itu, tak pantang menyantap tongseng dan sate kambing. "Alhamdulillah tak ada masalah kolesterol. Kuncinya kan ya segala sesuatu itu janganlah berlebihan," ujarnya.

Dalam perbincangan di sela menikmati tongseng, Buya Syafii antara lain sempat melontarkan pertanyaan kepada Ulil soal kiprahnya di Partai Demokrat. "Saya sudah lepas dari partai politik, Buya," jawab Ulil. Setelah beberapa tahun berkiprah, dia memutuskan kembali menjadi orang bebas. "Tapi saya tidak kapok masuk parpol. Saya mendapat pelajaran juga di sana," imbuhnya.

Sebelum berpamitan, Iqbal sempat melontarkan rasa bahagianya karena bisa bertemu dan ikut berbincang dengan Buya. Juga bisa ikut menikmati hidangan tongseng yang luar biasa. "Ini tongseng persatuan NU-Muhammadiyah," celetuknya.

Lihat Video: Blak-blakan Buya Syafii: Meluruskan Kiblat Bangsa

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)