Kolom Hikmah

Ukhuwah

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 27 Mei 2022 07:59 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Dalam kehidupan umat Islam yang dicita-citakan adalah hidup dalam kerukunan, damai, kompak seperti tubuh. Bersatu dalam ikatan persaudaraan sudah menjadi keharusan, mengingat kehidupan modern saat ini memerlukan suatu ekosistem. Kehidupan dalam suatu persaudaraan yang menjadikan ekosistem akan menjadikan hidup makin bermakna. Bagaimana tidak? akan terjadi bersatunya pemenuhan kebutuhan dan terencananya kemampuan produksi, sehingga dalam persaudaraan akan mengefisienkan ekonomi anggotanya.

Di antara umat sendiri pada tingkat global, masih sulit untuk mencapai kesepakatan dalam bingkai persaudaraan. Meskipun demikian anggota masyarakat global mulai banyak yang mempelajari ajaran Islam dan bahkan mulai ramai menjadi mualaf ( dari negara-negara maju ). Hal ini akan memberikan peluang atau mendorong terciptanya ukhuwah. Saat ini sudah ada di beberapa negara pejabat pimpinan wilayah, anggota parlemen dan eksekutif lainnya yang beragama Islam sudah menjalankan perannya untuk mendorong merangkai persaudaraan.

Mari kita simak saat dinasti Ustmani atau Ottoman yang berkedudukan di Istambul bangkit menggantikan dinasti Abbasiyah, masih terjadi perpisahan di kalangan masyarakat Muslim saat itu. Hal ini terbukti ada empat kekuasaan di tangan penguasa Muslim, Ustmani (Turki), Khan (Persia), Mamluk (Mesir) dan Mamluk ( India ). Keempat penguasa ini belum bisa bersatu. Setelah perang dunia pertama, dinasti Ustmani jatuh pada tahun 1920 ke tangan Kemal Attaturk dengan merubah menjadi negara sekuler.

Sejak abad 11 H / 17 M sampai berakhirnya perang dunia kedua, hampir seluruh wilayah yang sebagian besar penduduknya Muslim, baik langsung maupun tidak langsung berada di bawah pengaruh kekuasaan penjajah Barat. Adapun motivasi awal kaum penjajah adalah menguasai sumber-sumber ekonomi, kemudian berkembang dengan menyebarkan keyakinannya. Dengan kondisi seperti ini peluang berada dalam bingkai "persaudaraan" memerlukan kerja cerdik dan ditopang dengan kesabaran yang tinggi.

Baru pada pertengahan abad ke 13 H / 19 M seruan Ibnu Taimiyah mulai didengungkan kembali oleh dua tokoh pembaharuan yaitu, Jamaluddin al-Afghani ( 1315 H / 1897 M ), kelahiran provinsi Kunar, Afghanistan dan Muhammad Abduh ( 1323 H / 1905 M ) kelahiran Mesir. Keduanya membangkitkan kembali semangat persatuan umat Islam, meskipun keduanya berbeda pendekatan strategi dalam memperjuangkan tersebut. Mereka berdua menyerukan pada umat Islam untuk kembali berpegang pada Al-Qur'an dan Hadis dan melepaskan atau membuang jauh sikap taqlid buta. Dengan seruan ini diharapkan umat Islam berpedoman dan merujuk pada acuan yang sama, sehingga perbedaan-perbedaan lain tidak menjadikan penghambat.

Abduh juga meminta kaum muslimin melakukan kritik diri secara rasional, dengan menggenggam moral agama menggerakkan solidaritas sosial. Rasa persaudaraan akan tumbuh subur jika umat hidup dalam kebersamaan.

Mari kita simak Allah Swt. berfirman dalam Surat al-Hujurat ayat 10:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."


Itulah ukhuwah dalam agama, yang oleh para ulama dikatakan, " Sungguh, ia lebih kokoh dibanding ukhuwah berdasarkan ikatan keturunan, karena ukhuwah berdasarkan keturunan akan terputus dengan perbedaan agama, sedangkan ukhuwah berdasarkan agama tidak akan terputus dengan berbedanya nasab."

Mari kita simak firman Allah Swt. dalam surah al-Hasyr ayat 9 yang berbunyi, " Mereka mengutamakan ( orang-orang muhajirin ) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan ( apa yang mereka berikan itu ). Barangsiapa terpelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung," inilah penghargaan Allah Swt. bagi orang-orang Anshor yang lebih mementingkan kebutuhan saudaranya orang-orang muhajirin dari pada dirinya sendiri.

Sebaliknya, jika terjadi perpecahan maka orang-orang Muslim dianjurkan untuk segera mendamaikan kedua pihak yang bersengketa. Allah Swt. berfirman, "Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." ( QS. al-Hujurat ayat 9 ).

Allah Swt. menciptakan umat manusia bersuku-suku dan berbeda agama, ras, golongan dan warna kulit serta berbeda bahasa agar mereka saling mengenal dan menjalin persaudaraan untuk bersama-sama memakmurkan bumi.

Perwujudan persaudaraan ini harus diikuti dengan beberapa langkah.
Pertama, Menghilangkan sikap fanatisme golongan.
Kedua, Menghindari perbedaan masalah cabang agama ( furu'iyah).
Ketiga, menumbuhkan rasa kebersamaan, sehingga akan muncul sikap/rasa persatuan.
Keempat, Pengertian tentang umat Islam mencakup semuanya tanpa memperhatikan sikap politiknya.

Sebenarnya dengan empat langkah tersebut akan menuntun kita menuju bingkai persaudaraan, maka mulailah dari lingkungan paling kecil yaitu keluarga ( kelompok yang mempunyai tali keluarga ), meningkat persaudaraan di lingkungan kita, sampai pada tingkat lebih luas. Jadikan persaudaraan ini untuk menyatukan pemenuhan minimal kebutuhan hidup sehari-hari dan terus akan meningkat terhadap kebutuhan-kebutuhan selanjutnya. Langkah inilah yang paling dikhawatirkan para ahlul batil, jika persaudaraan ini terjadi maka muncullah satu kekuatan baru yang pengaruhnya akan besar.

Semoga dengan keberadaan persaudaraan ini, menjadikan kita lebih mempunyai sikap saling menolong, saling menghormati dan rasa kebersamaan.

Aunur Rofiq


Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)