Kala dr Achmad Yurianto Menolak Uang Transpor

Sudrajat - detikNews
Minggu, 22 Mei 2022 09:35 WIB
Blak-blakan dr Achmad Yurianto di detik.com, 29 Januari 2020
Blak-blakan dr Achmad Yurianto di detikcom, 29 Januari 2020 (Foto: Tangkapan Layar 20detik)
Jakarta -

Sejak pertengahan Januari 2020, tugas dr Achmad Yurianto bertambah. Resminya dia menjabat sekretaris di Sekretariat Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan. Tapi ketika isu virus Corona mulai merebak di Wuhan, China, dialah yang ditugasi berbicara langsung dengan kalangan media. Baik melalui telepon maupun dalam format wawancara dan talks show di media elektronik.

Kepercayaan yang dibebankan kepada lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga 1990 itu bukan tanpa alasan. Di era Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, dia pernah dipercaya menjadi Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, 2015-2019.

"Ya, namanya tugas negara saya jalani saja meski tanpa honor tambahan," ujarnya diiringi tawa kecil. Sejurus kemudian mimik mukanya berubah serius. "Tapi kalaupun sampeyan kasih honor atau uang transpor, pasti saya tolak karena itu menyalahi etika."

Meski berlatar militer dengan pangkat kolonel, gaya bicara lelaki kelahiran Malang, 11 Maret 1962, ini jauh dari kaku. Penampilannya amat sederhana dan tidak protokoler. Ketika tiba di gedung Trans TV pada 28 Januari 2020, Pak Yurianto terlihat nyelonong sendirian.

Mengenakan kemeja batik lengan pendek warna dasar hitam, hari itu dia mengaku melakukan safari ke lebih dari lima media.

"Semoga nggak ada yang ngenali kalau saya nggak ganti-ganti baju. Semoga ini yang terakhir untuk malam ini," ujarnya. Sentuhan make-up dan sorot lampu tak mampu menutupi gurat-gurat lelah di wajahnya. Toh begitu, dia mencoba fokus dan semangat menjelaskan fenomena virus Corona semampunya.

Dalam perbincangan di program Blak-blakan selama sekitar 30 menit, dr Achmad Yurianto antara lain menyebut Novel Coronavirus atau 2019-nCoV tak seganas wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada 2002-2003 dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) pada 2012. Sebab, angka kematian akibat SARS tergolong tinggi, yakni 30-an persen dari jumlah yang sakit. Sedangkan virus MERS mencapai 40 persen dari jumlah yang sakit.

Dia juga menyampaikan virus lazimnya menular antar-makhluk hidup, tidak lewat benda mati. Hal ini untuk menepis rumor bahwa virus Corona bisa menular via makanan dan aneka produk dari China.

Saat materi wawancara itu diunggah ke kanal YouTube, beberapa netizen mengkritiknya. Dia dinilai terlalu dini menyampaikan pernyataan semacam itu. Sebab, Corona virus saat itu sudah terdeteksi sangat mudah menular bahkan melalui udara.

Tapi sejatinya Pak Yurianto tak keliru, sebab hingga Januari 2020 data soal dampak corona belum banyak terungkap. Karena itu, dia juga mengingatkan masyarakat agar senantiasa waspada dengan selalu mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Ketika kasus pertama terdeteksi di Depok pada awal Maret 2020, Yurianto yang baru menjabat Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit harus merangkap sebagai Juru bicara Satgas COVID. Jabatan Dirjen diemban hingga 23 Oktober 2020 dan Jubir Satgas hingga Juli 2021. Selepas menjadi Dirjen, oleh Menteri Kesehatan Letjen TNI Terawan, dia dilantik menjadi Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi.

Sejak 22 Februari 2021, Presiden Jokowi melantiknya sebagai Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Periode 2021-2026. Menjelang Isya kemarin, Sabtu (21/5/2022), Pak Yurianto mengembuskan napas terakhir di Malang setelah mengalami komplikasi. Sejak beberapa waktu lalu, dia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto karena stroke setelah menjalani kemoterapi kanker usus.

Selamat jalan menuju keabadian, Pak Yurianto. "Allaahumaghfirlahu warhamhu wa'aafihii wa'fu anhu...."

(jat/dwia)