Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Bertindak Nyata Hentikan Bencana
Senin, 05 Jun 2006 05:41 WIB
Jakarta - Indonesia bukan saja negeri yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga rentan bencana alam. Salah satu bukti, menjelang hari lingkungan hidup sedunia 5 Juni, gempa bumi menggoyang Yogyakarta dan sekitarnya.Padahal belum lama berselang, banjir dan tanah longsor melanda Jember Jawa Timur dan Banjar Negara Jawa Tengah. Dan yang paling dahsyat adalah tsunami di Aceh beberapa waktu lalu.Menurut data Bakornas, dalam kurun waktu lima tahun, 1998-2004 terjadi 1.150 kali bencana, dengan korban jiwa 9.900 orang serta kerugian sebesar Rp 5.922 miliar, seperti dikutip dari rilis ynag diterima detikcom dari WALHI, Minggu (4/6/2006).Tiga bencana utama adalah banjir (402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian Rp 647,04 miliar), kebakaran (193 kali, korban 44 jiwa, kerugian Rp 137,25 miliar) dan tanah longsor (294 kali, korban 747 jiwa, kerugian Rp 21,44 miliar).Walaupun kekerapan bencana meningkat secara signifikan beberapa tahun terakhir ini, namun Walhi menilai pemerintah tidak melakukan kajian menyeluruh mengenai pola dan penyebab bencana tersebut.Padahal saat ini keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia berada dititik kritis. Hal itu karena bencana ekologis yang terjadi secara akumulatif dan simultan tanpa ada upaya signifikan untuk mengurangi kerentanan dan kerawanan masyarakat terhadap dampak bencana itu."Bencana ekologis adalah akumulasi krisis ekologis yang disebabkan oleh ketidakadilan dan gagalnya sistem pengurusan alam yang telah mengakibatkan kolapsnya pranata kehidupan masyarakat," ujar Direktur Eksekutif Walhi, Chalid Muhammad.Untuk itu diperlukan hal-hal nyata untuk mendukung penghentian bencana ekologi. Menurut Chalid ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Diantaranya dengan membangun refleksi kritis atas konsumsi sehari-hari yang berdampak pada kerusakan alam, mengembangkan budaya konsumsi dan produksi yang cinta lingkungan dari kelompok masyarakat terkecil, serta mempromosikan pendekatan bioregion sebagai prasyarat perubahan paradigma yang utama.Bencana alam memang kuasa Tuhan, namun bukan berarti manusia hanya bisa diam. Upaya nyata lestarikan lingkungan merupakan salah satu jawaban minimalkan bencana.Jangan biarkan lingkungan kian rusak. Selamat Hari Lingkungan Hidup!
(bal/)











































