Amien: ExxonMobil Rugikan Negara Triliunan Rupiah

Amien: ExxonMobil Rugikan Negara Triliunan Rupiah

- detikNews
Minggu, 04 Jun 2006 21:05 WIB
Medan - Pengelolan sejumlah hasil bumi oleh perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ExxonMobil dinilai telah merugikan negara triliunan rupiah. Pemerintah diminta untuk membuka lagi negosiasi untuk Blok Cepu dengan ExxonMobil guna mengurangi potensi kerugian negara."Kekayaan alam kita terus dikeruk. Bahkan tambang emas, minyak maupun gas bumi yang dikelola ExxonMobil rakyat tak pernah merasakannya. Mereka merugikan kita triliunan rupiah. Negara hanya dapat royalti dalam bentuk pajak sesuai dengan perjanjian kontrak karya," cetus Amien Rais.Pernyataan ini disampaikan Amien kepada wartawan, Minggu (4/6/2006), usai sebuah acara di Hotel Garuda Plaza, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara.Kondisi ini, menurutnya, tak sebanding dengan kekayaan alam Indonesia. Dalam kasus Blok Cepu misalnya, negara betul-betul dirugikan. Dalam kontrak karya (KK) antara pemerintah Indonesia dengan ExxonMobil, Indonesia hanya memperoleh rolyalti."Sementara, hasil keuntungan dari pengelolaan Blok Cepu itu, 85 persen lari ke luar negeri. Yang paling menyakitkan, kekayaan alam terus dikuras, sedangkan rakyatnya miskin terus," ujar Amien.Karenanya, dalam kasus Blok Cepu ini, Amien mendesak pemerintah membuka kembali perundingan antara PT Pertamina dan ExxonMobil yang seharusnya berakhir pada 2010 mendatang. Menurut dia, jika KK dianggap tidak menguntungkan Indonesia, maka sudah saatnya pemerintah melakukan peninjauan untuk mempanjang kontraknya."Tapi sayang, sekarang sudah jadi bubur. Pemerintah akhirnya mempanjang kontrak Blok Cepu sampai 2030," sesal Amien.Beberapa alasan yang dikemukan Amien mengapa cadangan minyak Blok Cepu harus ditinjau adalah pertama, menyangkut persepsi iklim investasi di Indonesia. Kedua, menyangkut kebutuhan fiskal negara dan Ketiga, menguji keinginan pemerintah untuk membesarkan Pertamina."Pertimbangan lain, kenapa harus ditinjau ulang. Sebab saat ini harga minyak sedang baik. Posisi Indonesia sudah hampir berada di garis batas antara eksportir dan importir migas. Padahal, kita memiliki cadangan minyak yang luar biasa," tukasnya.Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini melihat, secara teknis, pemerintah masih enggan untuk melakukan negosiasi antara ExxonMobil untuk meninjau kembali Blok Cepu.Semestinya, pemerintah harus berupaya mencari solusi yang menguntungkan semua pihak, namun tetap memprioritaskan kepentingan nasional dan mensejahterakan rakyat. Sebab, ada potensi pendapatan negara yang besar yang harus dimaksimalkan, namun di sisi lain Indonesia juga harus memperbaiki iklim investasinya. (bal/)


Berita Terkait