Kubah Lava Merapi Kian Mengkhawatirkan
Sabtu, 03 Jun 2006 17:17 WIB
Yogyakarta - Pertumbuhan kubah lava baru gunung Merapi pascagempa tektonik, saat ini semakin pesat. Dikhawatirkan kubah lava baru yang mencapai 3 juta meter kubik bisa runtuh sehingga menimbulkan awan panas (wedhus gembel) cukup besar.Akibat suplai magma ke atas yang semakin meningkat itu dikhawatirkan akan runtuh karena masih belum stabil. Dengan demikian luncuran awan panas juga semakin meningkat pula."Saat ini luncuran awan panas semakin meningkat. Sedang volume kubah lava mencapai lebih dari tiga juta meter kubik," kata Kepala Seksi Gunung Merapi,Subandriyo di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Sabtu (3/6/2006). Menurut dia, pengukuran yang dilakukan terhadap kubah baru tersebut mulai 18 Mei 2006 hingga 2 Juni 2006 menunjukkan pertambahan tinggi kubah yang mencapai 18 meter. Dalam waktu tujuh hari kubah lava baru sudah mengalami kenaikan tinggi 18 meter dari 83 meter pada Sabtu (27/5/2006) menjadi 100 meter pada Jumat (2/6/2006). "Jika material di kubah tersebut longsor bisa ke segala arah dengan jarak luncur yang semakin jauh pula. Bila ukuran kubah mencapai tiga juta meter kubiksangat berpotensi longsor dan munculnya awan panas. Bahkanluncuran bisa mencapai kawasan pemukiman," katanya.Selain kubah lava terus meningkat sejak terjadinya gempa, kata Subandriyo suplai magma dari dapur magma ke kubah yang sebelum gempa rata-rata 40 ribu sampai 50 ribu meter kubik per hari, saat ini naik menjadi 150 ribu meter kubik per hari. Dia mengatakan luncuran awan panas dan lava pijar sejak terjadinya gempa juga masih tinggi. Pada hari ini Sabtu (3/6/2006) jam 00.00-06.00 WIB, luncuranawan panas sebanyak 34 kali dengan jarak mencapai 2 kilometer ke arah hulu Kali Krasak, Kali Boyong dan Kali Gendol. Gempa guguran mencapai 94 kali. Sedang gempa fae banyak dan gempa tertonik masing-masing terjadi 6 dan 7 kali.Sementara itu pada hari Jumat (2/6/2006), gempa guguran mencapai 388 kali, gempa fase banyak 35 kali dan gempa tektonik sebanyak 24 kali. Sedang luncuranawan panas sebanyak 163 kali dengan jarak maksimal 2 km.Subandriyo menambahkan luncuran awan panas dan guguran lava pijar sebagian besar masih mengarah ke hulu Kali Krasak, Boyong dan Kali Gendol. Namun sejak Kamis (1/6/2006) lalu, untuk pertama kali guguran lava mengarah ke barat, yaitu ke hulu Kali Sat, Senowo dan Bebeng. "Ini yang pertama kali yang mengarah ke barat, masuk ke hulu Kali Sat dan Senowo," katanya.
(jon/)











































