Kolom Hikmah

Dermawan

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 07:59 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dikisahkan Basyir al-Aslami r.a. bercerita : Saat kaum Muhajir tiba di kota Madinah, mereka kesulitan mendapatkan air minum. Salah seorang lelaki Bani Ghifar memiliki mata air bernama Rumah. Ia biasa menjual air satu qirbah (wadah) air seharga satu mud (kurma).

Pada suatu saat Rasulullah Saw. berkata kepadanya, " Juallah mata air itu kepadaku dengan mata air surga." Ia menjawab, " Ya Rasulullah, hanya mata air itu yang aku dan keluargaku miliki. Aku tak bisa."

Ustman mendengar kabar keinginan Rasulullah Saw. kemudian ia membeli mata air itu seharga 35 dirham. Kemudian ia menemui Rasulullah Saw.

" Ya Rasulullah, bila aku membeli mata air itu, akankah kauberikan padaku mata air di surga seperti yang kau katakan pada lelaki Ghifar itu?"

" Ya," jawab Nabi,

" Aku telah membelinya dan kuberikan kepada kaum Muslim," tutur Ustman gembira.

Kisah ini cukup sederhana, namun isi atau maknanya mencakup Tauhid. Lelaki pemilik mata air, merupakan seseorang yang berhitung untuk menghidupi nafkah keluarga, sehingga saat Rasulullah Saw datang dan berniat membeli dengan mata air di surga, dia katakan tidak bisa. Padahal dia (lelaki) itu tahu yang mau membeli adalah seorang utusan-Nya yang sejak muda sudah dikenal sebagai sosok yang jujur dan amanah. Lelaki itu melihat arti kehidupan adalah ya di dunia ini, artinya dia telah menolak menukarkan sesuatu yang fana dengan yang kekal abadi, menolak sesuatu yang murah dengan yang bernilai sangat tinggi/tak terhingga.

Sikap seperti lelaki ini banyak dijumpai dalam kehidupan saat ini. Seseorang menukarkan keteguhannya dengan suatu jabatan tertentu, menukarkan menjadi "musuh" kaumnya untuk posisi yang tinggi. Ini semua menandakan terkikisnya tauhid dan merebaknya sikap "numpang" untuk kenikmatan. Janganlah lupa bahwa kenikmatan dunia ini bersifat fana dan bisa menjerumuskan pada kehinaan. Ingatlah yang Allah Swt. firmankan dalam surah Gafir ayat 39 yang berbunyi, " Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal."

Namun janganlah ditinggalkan kehidupan dunia ini, karena di sinilah kesempatan seseorang untuk mengumpulkan bekal ibadah menuju kehidupan akhirat. Hal seperti perintah-Nya dalam surah al-Qashash ayat 77 yang berbunyi, " Carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah ( kepada orang lain ) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu."

Sikap seorang dermawan seperti Ustman bin Affan, ketika mendengar Rasulullah Saw. membutuhkan sumber air untuk kaum Muhajir, tidak perlu konfirmasi dan langsung sumber air itu dibelinya. Setelah menghadap Rasulullah Saw. menyampaikan maksudnya. Sikap ini menunjukkan bahwa, kecintaannya untuk membantu sesama apalagi Rasulullah Saw. yang memerlukan, hatinya telah bersih karena " dunia " berada ditangannya dan tidak sampai masuk kehatinya. Tatkala di Madinah paceklik dan diperkirakan umat Muslim akan kesulitan pangan, dia ( Ustman ) langsung belanja cukup banyak bahan pangan. Saat dia istirahat ada beberapa pedagang mendatanginya dan menawarkan membeli barang-barang bawaannya dengan harga sampai tiga kali lipat, dia tolak. Ustman lebih mementingkan berbisnis dengan Allah Swt. dengan keuntungan yang jauh berlipat dengan cara memberikan barang bawaan tersebut untuk kebutuhan pangan orang-orang di Madinah.

Sikap mulia Utsman bin Affan hendaknya bisa menjadi teladan bagi pengusaha Muslim negeri ini. Dia sosok dermawan sekaligus sebagai pemimpin suatu negeri yang baru tumbuh. Sifat yang menonjol pada dirinya disamping dermawan adalah gaya hidup yang sederhana dan keteguhan akidah. Biasanya orang yang mempunyai kekayaan berlimpah akan terlihat dari rumah, pakaian dan makanan sehari-hari, tidak demikian dengan Utsman.

Sebenarnya dalam berbuat amalan ada adabnya yaitu, 1. luruskan niat dan bulatkan tekad agar amal terlaksana dengan sempurna. 2. Tidak terburu-buru dalam menyelesaikan amal hingga terlaksana dengan baik. 3. Tidak memberitahukan amal saleh pada orang lain agar terhindar dari rasa ujub, sum'ah dan riya.' Point 1 dan 2 tidak terlalu sulit dilakukan, namun point 3 ini amat sulit. Pada bulan suci Ramadhan biasanya sering kita melihat tontonan seseorang beramal dengan liputan stasiun televisi, ada harta yang diamalkan dalam beberapa truk dan ada pula seorang kepala daerah memberikan gajinya selama sekian tahun.

Semoga Allah Swt. selalu memberikan ampunan dan bimbingan serta keteguhan akidah. Tulisan ini kami tutup dengan perkataan orang bijak, " Perbuatan baik hanya sempurna dengan tiga hal : segera dilaksanakan, dianggap kecil dan dirahasiakan.

Aunur Rofiq


Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)