Candi Prambanan Jadi Inspirasi RI di Presidensi G20, Apa Maknanya?

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 10:34 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate menerima naskah akademik tentang regulasi hak penerbit (publisher rights) dari Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Internasional Dewan Pers, Agus Sudibyo. Sebelumnya, Menkominfo Johnny G. Plate menyatakan, naskah akademik itu akan menjadi dasar usulan payung hukum mengenai hak penerbit yang akan diajukan kepada Presiden Joko Widodo
Foto: Tangkapan layar web kominfo.go.id
Jakarta -

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengisahkan keberadaan candi, salah satunya candi prambanan sebagai bukti harmoni dalam keragaman dan resiliensi di Indonesia. Kepada delegasi Digital Economy Working Group (DEWG) G20, Johnny menuturkan hal itu sebagai salah satu inspirasi semangat yang dibawa dalam Presidensi G20 Indonesia tahun 2022.

"Pemugaran candi Prambanan yang berkelanjutan dapat menjadi contoh semangat kepresidenan tahun ini. Sepanjang sejarah, candi Prambanan terus menghadapi bencana besar. Namun, karena upaya kolaboratif orang-orang, candi telah bertahan menghadapi tantangan dan bahkan tumbuh signifikansinya," jelas Johnny dikutip dari website Kominfo (19/5/2022).

"Kami berharap melalui masa kepresidenan tahun ini, kami juga dapat bertahan dan tumbuh melalui masa-masa sulit ini dan pada akhirnya Recover Together, Recover Stronger," sambungnya.

Menurut Johnny keragaman suku, budaya dan agama di Indonesia bisa berdampingan dengan baik karena adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau Unity in Diversity. Selain itu, ketangguhan dalam menghadapi bencana juga tampak dari keberadaan candi yang sekarang masih tegak berdiri.

"Indonesia memiliki ratusan candi yang indah karena budaya kita yang sangat beragam. Dua candi paling terkenal terletak di dekat sini di Jawa, yaitu Candi Borobudur, candi (agama) Budha, dan Candi Prambanan, candi (agama) Hindu," tuturnya.

Johnny menyatakan Candi Prambanan yang indah merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia. Bahkan menjadi salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara dan dianggap sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1991.

Johnny menguraikan keberadaan Candi yang berdekatan seolah menjadi bukti nyata setiap komunitas agama berbeda di Indonesia hidup berdampingan secara harmonis.

"Dengan cara yang sangat puitis, kedamaian dan kedekatan antara kedua candi ini memberitahu kita bahwa di Indonesia, komunitas agama yang berbeda memang hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini sesuai dengan semboyan nasional Indonesia 'Bhinneka Tunggal Ika' yang berarti 'Unity in Diversity'," tuturnya.

Johnny mengatakan keberadaan candi di Indonesia bukan hanya warisan karya budaya semata, namun menjadi bukti ketahanan Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman.

"Banyaknya candi-candi di Indonesia bukan hanya pemandangan untuk dilihat tetapi juga memiliki sejarah besar di balik setiap pembangunan dan pemugaran berkelanjutan," ungkapnya.

Ia menjelaskan Candi Prambanan dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan, raja Kerajaan Medang, sekitar tahun 830 Masehi. Menurutnya, penerus Raja Rakai Pikatan terus membangun dan mengembangkan kompleks di sekitar candi Prambanan.

"Namun seiring berjalannya waktu, konflik dan bencana melanda, yang menyebabkan candi itu ditinggalkan sekitar abad ke-10 Masehi. Bencana tersebut berupa letusan gunung berapi dan gempa bumi yang sering terjadi, bencana yang berdampak signifikan terhadap daratan. Meski begitu, kuil megah ini bertahan," jelas Johnny.

Sejak ditemukan kembali pada awal 1700-an, candi Prambanan terus-menerus menghadapi tantangan. Berbagai upaya restorasi juga telah dilakukan oleh pemerintah, masyarakat setempat, dan berbagai lembaga.

"Proyek restorasi terbaru adalah pada tahun 2009, setelah gempa Yogyakarta. Penduduk setempat dan pemerintah percaya bahwa candi ini benar-benar merupakan landmark bersejarah dan akan terus dipertahankan kondisinya," tandasnya.

Dalam acara itu hadir mewakili Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, Eky Kumolowati; delegasi dari 15 negara G20; perwakilan dari International Telecommunication Union (ITU), Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), dan United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP); serta perwakilan Knowledge Partner dari Universitas Padjadjaran; Universitas Indonesia; dan Universitas Gadjah Mada.

Simak Video 'DEWG G20 Bahas Isu Konektivitas dan Pemulihan Pascapandemi':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)