Makam Pujangga Ronggowarsito Rusak Parah

Makam Pujangga Ronggowarsito Rusak Parah

- detikNews
Jumat, 02 Jun 2006 18:52 WIB
Klaten - Makam pujangga besar Jawa Ronggowarsito di Desa Palar, Trucuk, Klaten, mengalami kerusakan parah akibat gempa Sabtu lalu. Sejumlah tiang beton bangunan cungkup-nya patah. Jauh lebih parah lagi adalah kondisi kerusakan yang diderita makam Sunan Bayat di Kecamatan Bayat, Klaten.Siapa yang tidak kenal Ronggowarsito, pujangga terakhir di Kraton Surakarta itu. Analisa sosialnya tajam didukung ketajaman intuisi dan penginderaannya. Dialah yang meramalkan akan terjadi sebuah zaman dengan tatanan serba kisruh yang disebutnya sebagai zaman edan, jargon yang selalu aktual hingga sekarang.Kini makam pujangga besar itu merana akibat guncangan gempa. Meskipun makamnya dalam kondisi utuh, namun bangunan cungkup (rumah makam) ukuran besar yang dibangun dan diresmikan tahun 1955 oleh Presiden RI saat itu, Bung Karno, mengalami kerusakan parah di seluruh bagian bangunan.Konstruksi bangunan bagian bawah masih terlihat kokoh. Sedangkan tiang-tiang betonnya sebagian besar lepas dari kesatuan bangunan, meskipun masih berdiri menyangga dinding bagian atas. Bahkan beberapa di antaranya terlihat telah miring.Dinding bangunan juga retak merata dari atas hingga bawah. Beberapa bagian di antaranya keretakan itu membahayakan karena cukup menganga. "Saya sendiri khawatir juga kalau masuk bangunan untuk membersihkan makam," ujar Sewo Tenoyo, juru kunci makam, kepada detikcom, Jumat (2/6/2006).Makam Sunan Bayat HancurKondisi lebih parah terjadi pada makam Sunan Bayat di lereng Gunung Jabalkat di Desa Paseban, Bayat, Klaten. Sebagian jendela cungkup bahkan terlepas dan jatuh. Makam ditutup untuk peziarah, karena kondisinya mengkhawatirkan keselamatan pengunjung.Kerusakan kompleks makam Sunan Bayat mencapai lebih dari 85 persen. Semua bangunan rusak parah kecuali tangga menuju makam, gapura depan dan tengah serta bangsal jerambah yang digunakan para juru kunci beristirahat.Sedangkan bangunan utama tempat pemakaman Sunan beserta keluarga dan pengikutnya rusak parah. Demikian juga gapura terakhir, yang merupakan gapura paling besar, harus disangga dengan bambu agar tidak ambruk. Di depan gapura inilah tempat terakhir yang bisa dikunjungi peziarah.Kunjungan peziarah juga menjadi menyusut drastis. Sambudi, salah seorang juru kunci makam, menyatakan, puncak kunjungan ziarah di makam wali yang berjasa pada penyebaran Islam di Jateng Selatan dan Yogyakarta tersebut, terjadi pada malam Jumat Legi dan Jumat Kliwon yang bisa mencapai belasan ribu orang."Malam Jumat Kliwon kemarin yang berziarah hanya sedikit, kalau dihitung paling cuma separuh dari biasanya. Mereka juga tidak berlama-lama di sini. Kami selaku pengelola harian juga sudah melaporkan semua kerusakan ini kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala di Prambanan," ujarnya. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads