Warna-warni Perjalanan Kak Toto, Guru Lukis Khusus Anak Autis

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 15 Mei 2022 12:51 WIB
Jakarta -

Guratan kuas di kanvas itu adalah kata yang sering kali sulit terucap. Salman serta 5 anak lainnya adalah penyandang autisme yang tengah belajar melukis. Di bawah pengawasan Timotius Suwarsito atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Toto, anak-anak itu tengah menceritakan imajinasinya bukan melalui ucap suara, melainkan goresan warna.

Kak Toto bukanlah lulusan sekolah seni. Laki-laki berumur 47 tahun ini pun tidak punya darah seni dari keluarganya. Namun, kemampuannya itu terasah seiring perasaan senangnya saat menggambar dengan media kanvas. Berbekal kempuannya melukis, akhirnya kak Toto memberanikan diri untuk menjadi seorang guru lukis.

"Awal jadi pengajar lukis di tahun 2001. Saya belajar setahun dengan seorang teman Pak Yohanes guru di Hadiprana Art Centre juga. Kemudian beliau melihat potensi saya, kemudian bilang, 'Ini sih sebenarnya sudah bisa melukis, jadi tinggal belajar sebentar dan ikut saya mengajar saja' Dan mulai tahun 2001 saya mulai akhirnya fokus menjadi pengajar di Hadiprana Art Centre," ungkapnya dalam program Sosok Minggu, (15/5/2022)

Bagi Toto, melukis dan mengajar adalah 2 hal yang sangat ia gemari. Pria yang pernah bekerja di bidang konstruksi ini mengaku, bekerja di tempat yang tidak tepat membuatnya sulit meraih prestasi. 6 tahun lamanya bekerja di bidang itu, ia pun memutuskan untuk keluar dan mencari mata pencaharian baru.

"Sebenarnya (dulu sempat) bekerja di tempat sipil, pekerjaan pembangunan itu memang cita-cita saya. Tapi berjalannya waktu, saya tidak mendapatkan sesuatu yang membuat saya menyenangi pekerjaan itu terus menerus. Jadi saya gampang capek, gampang stres," ujar Kak Toto.

Sembari memperhatikan Salman melukis, Kak Toto bercerita tentang kisahnya hingga bisa menjadi pendamping seni bagi anak-anak penyandang autisme. Menurutnya, hal tersebut adalah jalan yang sudah disiapkan oleh semesta. Maka, dengan rendah hati dia menerima dan menjalaninya dengan suka cita.

"Waktu itu saya cuma dalam hati saja, ingin punya anak murid autis, ingin coba-coba walaupun saya tidak ada basic untuk mengajar itu Dan satu minggu kemudian ternyata ada tawaran untuk mengajar anak berkebutuhan khusus dan akhirnya itu menjadi tanda buat saya bahwa, 'Oh ini mungkin panggilan saya harus ke sini'. Dan itu saya jalankan sampai sekarang," kenangnya.

Saksikan Video kisah Kak Toto selengkapnya di sini

(nis/vys)