DPR: Mayoritas Fraksi Sepakat Masa Kampanye 2024 Jadi 75 Hari

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Minggu, 15 Mei 2022 12:14 WIB
Petugas Kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) melakukan perhitungan surat suara di Manggarai Selatan, Jakarta, Rabu (11/72012). dari empat TPS di Kelurahan Manggarai pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli memperoleh 481 suara sementara Pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahja memperoleh 472 suara di daerah tersebut. file/Jhoni Hutapea/detikcom
Ilustrasi Kertas Suara (Jhoni Hutapea/detikcom)
Jakarta -

Komisi II DPR yang membidangi urusan pemilu, bersama pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyepakati masa kampanye Pemilu 2024 dipangkas menjadi 75 hari. Kesepakatan itu diambil DPR, pemerintah, dan KPU dalam rapat konsinyasi saat masa reses.

Wakil Ketua Komisi II DPR Saan Mustopa menjelaskan kesepakatan tersebut dilatarbelakangi sejumlah pertimbangan. Menurut Saan, durasi masa kampanye dipersingkat untuk menghindari polarisasi di masyarakat imbas tahun politik sebagaimana yang terjadi pada 2019 dan 2014 lalu.

"Itu mayoritas fraksi, ya, meminta itu (75 hari). Pertama, menghindari polarisasi. Kampanye yang terlalu lama itu kan bisa menimbulkan polarisasi di masyarakat. Ini membahayakan dalam konteks keutuhan dan sebagainya. Ini introspeksi 2019 dan 2014, kan," kata Saan saat dihubungi, Minggu (15/5/2022).

Lebih lanjut, Saan menyebut pihaknya meminta pemerintah dan penyelenggara pemilu melakukan efisiensi produksi dan distribusi logistik pemilu. Salah satunya terkait pencetakan kertas suara.Saan melanjutkan, masa durasi kampanye yang singkat juga diharap akan lebih efisien di tengah situasi pemulihan pandemi. "Terkait juga dengan efisiensi. Ini pemilu kita kan masih suasana pemulihan saat masa pandemi. Dan tentu belum stabil semua baik dari sisi ekonomi, sosial. Bahkan kita juga belum tahu pandemi ke depannya seperti apa, maka perlu juga dilakukan efisiensi dengan tidak mengurangi kualitas dari kampanye itu sendiri," ujar Ketua DPW NasDem Jawa Barat itu.

"Dalam rangka itu, kita juga minta pemerintah menyiapkan regulasi ya, terutama pengadaan dan distribusi logistik terkait dengan kandisasi seperti kertas suara, formulir, dan sebagainya," ujar Saan.

Pemerintah juga diminta menyiapkan regulasi terkait tahapan pemilu 2024. Saan menyebut masih akan menunggu hasil simulasi pelaksanaan kampanye berdurasi 75 hari yang dilakukan oleh KPU.

"Kita minta pemerintah menyiapkan regulasi itu dalam rangka mendukung kampanye yang 75 hari itu. Nanti itu disimulasikan, nanti lihat simulasinya seperti apa, karena kan pemerintah juga ada usulan 90 hari," katanya.

Terkait persidangan atas sengketa yang muncul saat masa kampanye, Saan mengatakan pihaknya sedang menkonsultasikan ihwal itu dengan Mahkamah Agung. Dia berharap proses persidangan di PTUN dapat dipercepat terkait kasus kepemiluan 2024.

"Kami meminta KPU untuk mensimulasikan durasi masa kampanye 75 hari tapi dengan syarat nanti yang bersengketa di PTUN-nya bisa cepat selesai juga. Jadi dengan durasi masa kampanye 75 hari, terus ada sengketa, itu bisa disingkat waktunya soal penanganan sengketanya dengan Mahkamah Agung kan," katanya.

"Nah makanya untuk soal sengketa di PTUN, nanti DPR akan coba konsultasi dengan Mahkamah Agung," imbuh Saan.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi II DPR lainnya, Junimart Girsang. Dia menyebut masa durasi kampanye yang singkat berorientasi untuk mengefisienkan waktu dan anggaran.

"Dari hasil diskusi, kajian kami dalam konsinyering tersebut, Komisi II menyampaikan masa kampanye cukup 75 hari saja dengan pertimbangan efisiensi waktu dan anggaran. Masa kampanye tersebut, mengingat masih dalam masa dan/atau transisi pandemi ke endemi. Untuk kampanye, fisik 60 hari, virtual 15 hari," kata Junimart dihubungi terpisah.

Simak selengkapnya terkait sistem e-voting di halaman berikut.