Yang Perlu Diketahui Tentang Flu Burung Human to Human

Yang Perlu Diketahui Tentang Flu Burung Human to Human

- detikNews
Jumat, 02 Jun 2006 10:34 WIB
Jakarta - WHO telah memastikan 36 pasien di Indonesia meninggal dunia akibat flu burung. Hal ini memicu kekhawatiran adanya penularan flu burung human to human, meski Menkes Siti Fadilah Supari sudah menyangkalnya.Sehubungan dengan makin meruncingnya pertanyaan tentang ada tidaknya penularan human to human di Indonesia, ada baiknya kita simak penjelasan Dr Tjandra Yoga Adhitama dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respitori FKUI, pada detikcom, Jumat (2/6/2006):1. Penilaian ada tidaknya mutasi sekuensing dalam bentuk perubahan asam amino di virus, ini akan memastikan telah ada tidaknya penularan human to human. Pemeriksaannya dilakukan dengan PCR dan kemudian dilihat urutas sekuensing yang ada, apakah masih sama dengan virus-virus avian influenza (AI) yang sebelumnya (baik di Indonesia atau pun di luar negeri) atau sudah berubah sama sekali. Sekali lagi, inilah yang sebenarnya gold standard yang memastikan ada tidaknya penularan human to human. 2. Deteksi tanda awal perubahan virus seperti misalnya ditemukannya komponen H 1 di bagian luar virus dan komponen H 5 di bagian dalam virus. Seperti disampaikan, ini adalah semacam deteksi awal, tanda dini, belum 100% pasti. 3. Perubahan dan interaksi antara RBS (receptor binding site) virus dengan reseptor yang ada di paru manusia. Seperti diketahui bahwa reseptor virus di dalam paru manusia adalah yang disebut sebagai 2-3 asam sialat. Jadi, kalau reseptornya (yang akan menerima) adalah 2-3, maka logikanya yang akan nempel adalah virus yang punya RBS (receptor binding site) 2-3 juga. Kalau RBS-nya ternyata 2-6 asam sialat maka tentu orang jadi bertanya, apa yang terjadi. Tentu temuan ini belum memastikan ada tidaknya human to human transmission, tetapi memang telah ada perubahan RBS yang perlu diteliti lebih lanjut. 4. Ditemukannya kasus yang onset gejalanya berbeda dengan sebagian besar kluster yang lain, apalagi kalau lewat masa inkubasi. Katakanlah ada 5 pasien yang jatuh sakit pada sekitar tanggal 1 sampai tanggal 3 bulan Mei misalnya, maka tentu kita bisa berasumsi bahwa mereka (kelima pasien itu) kontak pada sumber penularan yang sama, makanya jatuh sakit pada saat yang hampir sama. Tetapi, kalau 2 minggu kemudian, katakanlah misalnya tanggal 15 Mei ada lagi tetangga atau kerabat mereka yang sakit maka tentu kija patut bertanya-tanya. Ada 2 kemungkinan di sini, apakah si tetangga atau kerabat itu kebetulan juga kontak dengan sumber penularan lain yang mungkin memang ada di sekitar desa/tempat tinggal mereka, atau mungkin juga si kerabat itu tertular dari salah seorang dari 5 pasien tersebut. Jadi, di sini kembali perlu penelitian lebih lanjut. 5. Ditemukannya pasien "generasi kedua, ketiga dst", artinya mereka yang kemudian jatuh sakit padahal mereka tidak ada kontak apa pun dengan dugaan sumber penularan pada suatu kluster. Pasien "generasi kedua dst" hanya kontak langsung dengan pasien AI yang generasi pertama yangh memang nyata-nyata kontak langsung dengan sumber penularan di binatang. Apalagi kalau terjadi sustain transmission. Misalnya, pasien sakit, lalu masuk RS, lalu suster di RS jatuh sakit padahal si suster tidak pernah kontak dgn sumber penularan, hanya kontak dengan pasien yang sakit. Lalu si suster pulang, dan ternyata anak atau suaminya tertular. Lalu si suami masuk kantor, lalu teman sekerja si suami suter ini tertular dst. Nah, kalau seperti ini terjadi maka tentu telah terjadi penularan dari manusia ke manusia.Saya menyampaikan informasi ini semata-mata untuk mengajak kita semua melihat masalahnya secara jelas dan menyeluruh, supaya informasinya sahih. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads