Dear Koalisi Indonesia Bersatu, Siapa Capres yang Ditawarkan?

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 13 Mei 2022 11:12 WIB
Airlangga, Zulhas dan Suharso
Suharso Monoarfa, Airlangga Hartarto, dan Zulkifli Hasan. (Rakha Arlyanto Darmawan/detikcom)
Jakarta -

Partai Golkar, PPP, dan PAN sepakat membangun Koalisi Indonesia Bersatu jelang Pemilu 2024. Koalisi Indonesia Bersatu dinilai masih belum jelas, terutama soal sosok sentral yang bakal dimajukan di Pilpres 2024.

Pakar politik Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam mulanya menyoroti narasi 'Mengawal keberhasilan program Jokowi'. Menurutnya, itu merupakan strategi komunikasi politik Golkar untuk menggandeng partai-partai politik yang saat ini berada di dalam koalisi pemerintahan, khusus PPP dan PAN.

"Namun, strategi itu tentunya tidak akan digunakan Golkar saat melakukan penjajagan koalisi dengan Partai Demokrat dan PKS yang saat ini berada di luar pemerintahan. Kedua model pendekatan itu akan terus digunakan oleh Golkar untuk meyakinkan terbentuknya koalisi hingga mampu memenuhi presidential threshold 20%," kata Umam kepada wartawan, Jumat (13/5/2022).

Namun demikian, Umam menyebut, narasi melanjutkan program Presiden Jokowi berpotensi memunculkan resistensi. Menurut Umam, selain akan dinilai tidak memiliki visi, misi, dan platform kerja yang asli untuk ditawarkan kepada rakyat, narasi itu juga seolah menegasikan peran partai-partai di luar pemerintahan saat ini.

"Karena itu, jika Golkar lebih serius untuk menggandeng lintas partai, sebagaiknya ciptakan narasi baru untuk menyatukan partai-partai di internal maupun di luar pemerintahan saat ini," ujarnya.

Bagi Umam, skema Koalisi Indonesia Bersatu di bawah komando Golkar saat ini akan dihadapkan pada tantangan serius. Menjadi pertanyaan adalah, kata Umam, siapa capres dan cawapres yang ditawarkan pada 2024 nanti.

Dosen Ilmu Politik & International Studies, Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam (Dok istimewa)Dosen Ilmu Politik & International Studies, Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam. (Dok istimewa)

"Yaitu tidak jelasnya siapa tokoh sentral yang akan ditawarkan sebagai capres-cawapres di Pemilu 2024 mendatang, mengingat popularitas dan elektabilitas Airlangga sendiri tergolong masing sangat rendah. Karena itu, jika di fase komunikasi awal ini Golkar sudah mengunci PAN dan PPP untuk mendukung Airlangga sebagai capres, hal itu akan cenderung kontraproduktif," ujarnya.

Gerbong Koalisi Indonesia Bersatu, menurut Umam, akan dihadapkan pada potensi kemenangan yang relatif terbatas dan spekulatif. Selain, PAN dan PPP dinilai tidak akan siap menanggung risiko kekalahan dalam pilpres hingga memaksanya 'puasa dari kekuasaan' 5 tahun ke depan.

"Namun, dukungan PAN dan PPP bisa saja tetap dipegang dan dikendalikan oleh Golkar jika Airlangga menggunakan skema politik transaksional, dengan membeli dukungan suara partai, sebagaimana yang dilakukan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 yang lalu," imbuhnya.

Lihat juga video 'Saat Jokowi 'Mesra' dengan 3 Bakal Capres Terkuat':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: