Wajar Bila Warga Korban Gempa Stop Mobil Bantuan
Jumat, 02 Jun 2006 07:04 WIB
Jakarta - Adanya penyetopan mobil yang membawa bahan makanan dinilai tindakan yang wajar dilakukan. Terlebih karena lambatnya bantuan mengalir ke lokasi korban gempa."Akibat perekonomian yang tidak berjalan dan mereka yang mempunyai uang tidak bisa membelikan makanan, ditambah lambatnya bantuan. Saya melihat ini adalah tindakan yang wajar dilakukan, dan saya angap bukan tindakan kriminal," ujar Wakil Depsos di Bakornas Heri Kristanto kepada detikcom, Jumat (2/6/2006). Dia saat ini masih berada di pengungsian sejak kejadian gempa terjadi pada Sabtu (27/5/2006).Namun Bakornas mempunyai solusi untuk menghindarkan kejadian tersebut meluas. "Bakornas mengimbau Satkolak agar tidak terjadi meminta sumbangan dari pengguna jalan, tapi konsekuensinya Presiden melalui Bakornas mulai bulan juni menyalurkan sembako," tambahnya. Misalkan seperti diberikan pakaian sandang Rp 100.000 per jiwa, jatah beras 12 kg per jiwa/ bln, penggantian lauk pauk Rp. 3000 per jiwa per hari mulai direalisasikan. Mengenai penyaluran dan keamanan konsekuensi ini, Heri menjamin akan aman karena diawasi berbagai tingkat. "Pengambilan tiap 2 minggu sekali setiap kecamatan melalui Satlak, serta pengawasan Satlak diawasi langung Satkorlap dan Satkorlap langsung diawasi Bakornas. Jadi mudah-mudahan dapat terkendali," tandasnyaHeri optimis, pihaknya dapat menyelesaiakan masa tanggap darurat ini dalam waktu satu bulan dari perkiraan dua bulan dari pemerintah. "Setelah semua dapat tertangani dalam waktu dekat ini, saya optimis dalam waktu maksimal satu bulan dapat selesai masa tanggap darurat ini," tandasnyaPemerintah telah menyediakan dana Rp 1 triliun untuk Yogyakarta. Dari sejumlah itu, Rp 75 milliar digunakan untuk tanggap darurat, sedangkan Rp 925 miliar untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi.
(wiq/)











































