Kolom Hikmah

Ibu

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 13 Mei 2022 08:01 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Islam menempatkan Ibu di posisi yang paling mulia. Bahkan anak diwajibkan lebih dulu hormat kepada ibu sebelum kepada ayahnya. Hal ini tertulis dalam Alquran di Surat Luqman ayat ke 14.

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali"

Peran Ibu dalam keluarga, seperti perusahaan berperan sebagai COO, yang mengelola seluruh kepentingan dan kebutuhan rumah tangga. Namun ada satu yang paling utama adalah Ibu selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada keluarga khususnya para putera-puterinya.

Dikisahkan tentang Ibunda Nabi Musa a.s. dalam dua surah di Al-Qur'an yaitu surah Thaha dan al-Qashash. Pada saat Nabi Musa a.s. dilahirkan, kala itu penguasa negeri adalah Fir'aun yang sombong dan lalim. Ia memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki Bani Israel dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya.

Fir'aun termasuk manusia yang berbuat kerusakan sebagaimana yang difirmankan dalam surah al-Qashash ayat 1-13. Ia menjadi model penguasa lalim dan angkara murka, yang semestinya ia memelihara nyawa dan darah rakyatnya. Manakala seorang penguasa yang di tangannya terdapat otoritas kekuasaan dan hukum, telah terbalik dengan menggunakan fasilitas ini untuk memusuhi rakyatnya, maka ia berarti meninggalkan kewajiban dan tugasnya bahkan nuraninya sudah hilang rasa kemanusiaan. Pemimpin apapun tingkatannya, hendaknya menjaga amanah yang telah diberikan. Jangan kau kalahkan dengan nafsumu untuk menikmati kekuasaan, karena pemimpin itu mempunyai tanggung jawab yang berat. Dengan menipu maupun menzalimi rakyatnya, maka surga akan menjadi haram baginya.

Dalam kaitan kisah Ibunda Nabi Musa a.s. Allah Swt telah berfirman di surah Thaha ayat 37 - 40. Yang berbunyi, "Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: "Letakkanlah ia ( Musa ) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku ; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan."

Dalam ayat-ayat ini telah mengumpulkan antara dua berita, dua perintah, dua larangan dan dua kabar gembira adalah :
Dua berita adalah, Kami Ilhamkan kepada ibu Musa dan apabila kamu khawatir terhadapnya.

Dua perintah adalah, Susuilah dia dan hanyutkanlah ke sungai.

Dua larangan adalah, janganlah kamu khawatir dan jangan bersedih hati.

Dua kabar gembira adalah, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya ( salah seorang ) dari para rasul.

Bagi ibunda Nabi Musa a.s. bahwa Allah Swt. tidak hanya menjamin keselamatannya, namun lebih dari itu dengan mengembalikan kepada ibunya, untuk tetap hidup dan tumbuh dewasa dan menjadi seorang nabi. Saat Nabi Musa a.s. sudah diterima keluarga Fir'aun maka kosonglah hati ibunya dan akan menceritakannya keberadaan diri dan anaknya ( musa ) pada keluarga Fir'aun. Maka turunlah firman-Nya dalam surah al-Qashash ayat 10 yang berbunyi, "Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya."

Dalam kisah ini dapat diambil hikmah bahwa, Allah Swt. telah melibatkan bala tentaranya yang berupa :
1. Peti bayi di mana Musa diletakkan. Peti ini bisa menjaga bayi Musa tidak kemasukan air dan intinya aman sampai ditemukan oleh keluarga Fir'aun.

2. Sungai yang mengalir membawa peti menuju istana Fir'aun. Bisa saja air sungai itu membawa ke lain tempat, namun karena kehendak-Nya menuju istana Fir'aun.

3. Hati sanubari permaisuri Fir'aun, tumbuh kasih sayang terhadap bayi laki-laki Musa. Padahal pada saat itu Fir'aun telah memerintahkan untuk membunuh semua bayi lelaki. Jika Allah Swt. berkehendak atau melakukan tadbir maka jadilah.

4. Bibir Musa menolak untuk menerima puting susu manapun sampai Musa kembali disusui Ibunya. Kejadian ini sangat luar biasa dari pandangan lahir, seorang bayi yang lapar untuk disusui, namun menolak dan hanya mau menerima disusuin ibunya. Bayi ini sudah bisa atau ada rasa pembeda terhadap yang menyusuinya.

Adanya bala tentara ini menunjukkan bahwa Allah Swt. menguasai tentara langit dan bumi dan menunjukkan telah menugaskan tentaranya seperti apa yang dikehendaki-Nya. Perintah terhadap keempat bala tentara yang tidak mempunyai akal, kesadaran, pengetahuan merupakan bantahan terhadap kaum materialis yang mengingkari metafisika dan tidak mengakui adanya ruh atau kesadaran bagi manusia.

Dari kisah di atas bisa kita ambil hikmah dari sisi Ibu Musa adalah, dengan kasih sayang yang tulus terhadap puteranya maka Allah Swt telah menjamin keselamatan bayinya dan memberikan kegembiraan karena kembalinya bayi untuk disusui dan dewasa dipilih Yang Kuasa sebagai nabi. Dari sisi Fir'aun yang merasa berkuasa mutlak sampai dirinya merasa sebagai tuhan, namun tiada kuasa dengan tadbir ( rekayasa ) Allah Swt. Untuk itulah para pemimpin yang muslim hendaknya selalu mengingat-Nya dan jauhkanlah dari rasa sombong serta resapilah semua keberhasilan hanyalah datang dari Sang Kuasa.

Tulisan ini akan penulis akhiri dengan senandung syair tentang ibu.

Engkau guru kehidupan.
Membimbing batin menuju hidup kekal.
Engkau atur rumah tangga dan rawat kami.
Kasihmu laksana jalan tiada akhir.
Saat anak-anak dan dewasa kau tetap jaga kami.
Do'amu menembus langit ke tujuh.
Karunia-Nya mendatangiku lantaran do'amu.
Sukses anak tak lepas dari tahajudmu.
Ibu, kau adalah permata dan pintu surgaku.
Ayah, kau jembatan menuju kepada-Nya.
Muliakanlah keduanya.
Ingat Rasulullah katakan, " Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia." ( HR Tirmidzi ).
Kesolehan anak, alirkan pahala pada keduanya.
Ilmu Tauhid yang kau ajarkan, sebagai landasan amalanku.
Kebajikan dalam perbuatan, menjadi nafasku.
Semoga engkau dilapangkan, menuju pintu surga.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)