Cegah Hepatitis Misterius, KPAI Minta Pembukaan Kantin Saat PTM Dievaluasi

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 09:07 WIB
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti.
Komisioner KPAI Retno Listyarti (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

KPAI meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan pembukaan kantin sekolah saat pembelajaran tatap muka (PTM) dimulai setelah libur Lebaran. KPAI menilai hal itu perlu dilakukan untuk mencegah hepatitis misterius.

"Surat Edaran Sesjen Kemendikbud-Ristek terkait penyelenggaraan PTM, di antaranya sudah boleh membuka kantin di sekolah dengan batasan pengunjung 75 persen. Hal ini penting dievaluasi kembali karena penularan hepatitis akut melalui saluran pencernaan dan saluran pernapasan," kata komisioner KPAI Retno Listyarti kepada wartawan, Kamis (12/5/2022).

Retno berharap orang tua membawakan bekal bagi anaknya masing-masing saat ke sekolah. KPAI juga meminta pemerintah mengkaji PTM 100 persen di tengah munculnya hepatitis misterius ini.

"Selain itu, pemerintah melakukan monitoring dan evaluasi PTM saat ini. Jangan 100 persen lagi agar dapat melihat perkembangan kasus hepatitis misterius ini dan sebagai bentuk pencegahan," ucap Retno.

Dia merekomendasikan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para orang tua terkait hepatitis. Retno mengatakan sekolah dapat bekerja sama dengan puskesmas untuk mengedukasi warga.

"Dinas Pendidikan bersama Dinas Kesehatan dapat menyosialisasi pencegahan dan penanganan hepatitis akut melalui sekolah kepada peserta didik, pendidik dan para orang tua untuk dipahamkan tentang gejala-gejala awal penyakit hepatitis akut dan tindakan apa yang harus dilakukan para orang tua ketika anaknya menunjukkan gejala-gejala awal hepatitis akut," kata Retno.

Adapun gejala awal hepatitis akut antara lain mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Selanjutnya, gejala akan semakin berat, seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan BAB berwarna putih pucat.

"Orang tua yang sudah teredukasi wajib mengedukasi anak-anaknya terkait penyakit hepatitis misterius ini sehingga anak menyadari mengapa harus patuh pada prokes. Edukasi dan sosialisasi yang sama harus dilakukan pihak sekolah juga," ungkapnya.

KPAI mengimbau adanya kerja sama antara orang tua, tenaga kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan agar bisa menemukan gejala hepatitis akut sedini mungkin agar anak segera mendapatkan pertolongan medis.

"Jangan menunggu hingga muncul gejala kuning, bahkan sampai penurunan kesadaran. Karena kondisi tersebut menunjukkan bahwa infeksi hepatitis sudah sangat berat. Jika pasien terlambat mendapatkan penanganan medis, momentum dokter untuk menolong pasien sangat kecil," ucapnya.

Retno mengatakan sekolah dapat mengimbau warga sekolah dan orang tua untuk menjaga kebersihan dengan mencuci tangan pakai sabun, memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi matang, tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain, serta menghindari kontak anak-anak dari orang yang sakit. Dia juga mengatakan protokol kesehatan COVID-19, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas harus terus dilakukan.

Simak video 'Data WHO: Ada 6 Negara yang Laporkan Lebih dari 5 Kasus Hepatitis Akut':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/haf)