Presiden SBY:
Hentikan Perdebatkan Pancasila
Kamis, 01 Jun 2006 12:54 WIB
Jakarta -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak seluruh komponen bangsa menghentikan perdebatan mengenai Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara.Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebenarnya sangat relevan digunakan di masa reformasi dan demokrasi."Pancasila adalah falsafah dasar negara dan ideologi terbuka, bukan dogma yang statis dan menakutkan. Letakkan Pancasila secara terhormat sebagai sumber pencerahan dan inspirasi atas masalah-masalah yang akan kita selesaikan," kata SBY.Hal itu disampaikan dia dalam pidato politik saat memperingati Hari ke-61 Kelahiran Pancasila di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (1/6/2006).Selama 8 tahun reformasi berjalan, muncul debat ideologi mengenai kebangsaan. Pancasila diperhadapkan dengan sosialisme, kapitalisme, liberalisme, dan komunisme.Dipaparkan SBY, di tengah perdebatan soal ideologi, pengingatan kembali mengenai konsensus-konsensus dasar bangsa yang telah disepakati seperti Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika bisa dianggap berlawanan dengan hak politik dan semangat kebebasan.Menurut dia, apabila sikap-sikap kritis dan pengingatan itu sejalan dengan demokratisasi dan reformasi, maka hal itu harus disambut dengan baik. Namun jika sebaliknya, hal itu justru akan menimbulkan tantangan baru bagi Pancasila."Hiruk-pikuk dan kegaduhan politik selama ini kalau kita mau jujur terus terang berakar dari hal-hal yang bersifat fundamental itu," ujar dia.Namun demikian SBY tidak menutup akan adanya perubahan-perubahan yang terjadi sebagai tuntutan dari reformasi. Bangsa Indonesia harus mampu merespons perubahan-perubahan secara bijak, cepat, dan cerdas, sejalan dengan kemajuan-kemajuan zaman secara nasional dan global.Menyikapi perubahan yang terjadi, SBY mengajak semua komponen bangsa menggunakan Pancasila untuk menata kembali kerangka kehidupan bernegara."Mari gunakan dialog dan kembangkan konsensus bersama semua untuk semua, tidak ada yang memonopoli kebenaran," tandasnya mengutip maklumat kebangsaan yang sesaat sebelumnya dibacakan oleh Todung Mulya Lubis dan ditandatangani oleh sejumlah tokoh nasional.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































