Seluruh Bali Rawan Gempa

Seluruh Bali Rawan Gempa

- detikNews
Rabu, 31 Mei 2006 19:31 WIB
Denpasar - Hampir semua daerah di Bali rawan gempa. Kabupaten Karangasem dan Klungkung masuk kategori 'paling rawan gempa', Kabupaten Buleleng dan Jembrana di sisi utara dan barat 'rawan gempa' dan Kabupaten Tabanan, Gianyar dan Kota Denpasar 'agak rawan gempa.' "Kategori paling rawan ini dilihat dari historis gempa, yakni lokasi yang semakin tinggi atau sering frekwensi terjadinya gempa," kata Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar, Sutrisno, di kantonyar, Jl Raya Tuban, Rabu (31/05/2006). Pulau Bali termasuk daerah rawan gempa karena diapit oleh dua zone generator gempa, yakni lempeng disubduction di sebelah selatan selatan yang merupakan penyusupan lempeng Euro Asia dan Indo Australia yang sampai sekarang terus aktif bergesekan dan menyusup. Aktivitas ini berpotensi mengakibatkan gempa dan generator gempa kedua berupa patahan aktif berada di sisi utara Pulau Bali. Kecamatan Seririt, Buleleng pernah porak poranda diguncang gempa berkekuatan 6,7 skala richter. Jika gempa terjadi dengan kekuatan di atas 6,5 skala richter, maka berpotensi gelombang tsunami. Akan tetapi besar kecilnya tergantung kepada kekuatan getaran gempa serta memenuhi kriteria ciri-ciri terjadinya gelombang tsunami, antara lain patahan harus vertikal dan pusa berada di laut. Sutrisno menyatakan, pihaknya telah melakukan upaya mengantisipasi bahaya yang mengancam dengan memasang alat peringatan dini berupa alat sensor yang menghasilkan getaran sinyal untuk membunyikan sirene tanda bahaya ke kantor BMG ketika terjadi gempa. Delapan unit alat itu dipasang di Bukit Kedondong (NTB), Rata (Nusa Penida), Ingas (Jimbaran) serta Rangdu (Tabanan), Serawed (Banyuwangi), Klatakan (Gilimanuk), Yeh Saneh (Buleleng), dan Tanah Aron (Karangasem). Akhir 2005, BMG juga memasang alat canggih buatan Prancis yang disebut FONYX System. Alat ini, menurut Sutrisno, bisa menganalisis dan menyajikan data hanya dalam waktu lima menit setelah kejadian gempa. "Kewaspadaan ini bukan untuk menakut-nakuti warga masyarakat. Tapi semata-mata untuk langkah preventif meningkatkan kewaspadaan masyarakat karena wilayah Bali memang termasuk wilayah rawan gempa," demikian Sutrisno. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads