Sri Sultan Cari Heli Besar untuk Distribusikan Bantuan

Sri Sultan Cari Heli Besar untuk Distribusikan Bantuan

- detikNews
Rabu, 31 Mei 2006 15:19 WIB
Yogyakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DI Yogyakarta mulai Selasa (30/5/2006) telah berkonsentrasi terhadap pendistribusian bantuan untuk korban gempa. Dan saat ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X masih mencari heli ukuran besar untuk mendistribusikan bantuan itu. Menurut Sri Sultan, konsentrasi pihaknya saat ini masih pada pendistribusian bahan bantuan untuk para korban gempa. Tindakan ini dilakukan setelah penanggulangan korban secara medis sudah tertangani di berbagai RS. Hal ini disampaikan Sri Sultan kepada wartawan seusai menerima Duta Besar AS untuk Indonesia Lynn B Pascoe di Kantor Gubernur DIY, Jl. Malioboro, Yogyakarta, Rabu (31/5/2006). Menurut dia, pendistribusian bantuan harus dikelola dengan baik, agar para aparat dan relawan tidak kehabisan stamina. Berikut petikan wawancara Sri Sultan dengan para wartawan: Tindakan apa saat ini yang dilakukan Pemprov DIY? Kondisi RS di Yogya sudah menurun. Fasilitas dan dokter di Yogya masih terkonsentrasi. Mereka yang perlu operasi sudah sangat berkurang, sehingga kita sekarang konsentrasi di sektor distribusi mulai kemarin. Bagaimana hasil pendistribusian?Kemarin seharian mayoritas terdistribusi. Kami tengah mengatur untuk bisa mendapatkan helikopter yang lebih besar. Di wilayah sebelah kiri kita distribusi 3 hari, sebelah kanan tiga hari. Kita juga tidak perlu setiap hari, karena harus menjaga stamina, karena jangkanya cukup panjang. Jadi, masyarakat tidak tiap hari menerima bantuan, tapi dia akan punya stok. Bagaimana agar distribusi bantuan ini tertib?Harapan saya, kalau mereka sudah dapat bagian, berilah kesempatan yang lain mendapatkan bagian. Tadi malam sudah kita putuskan setiap truk harus dikawal. Saya juga ingin ingatkan pada masyarakat bahwa saat ini sudah cukup banyak orang luar Yogya yang masuk ke Yogya yang berada di lokasi-lokasi bencanaApakah penanganan gempa di Yogya akan diberlakukan sama dengan Aceh? Penanganan Aceh sama Yogya berbeda. Kalau Aceh satu wilayahnya habis. Kalau di sini, nggak. Desa sebagian hancur, sebagian berdiri. Itu yang saya maksud proses membangunnya tidak bisa sama. Kita perlu pendekatan-pendekatan sosial. Rata-rata rumah tetangga dari rumah yang rata ini punya keterbatasan. Apakah mungkin mereka ini akan mendapatkan rumah gedong baru, padahal tetangganya gedek (dinding bambu). Kalau tetangganya gedek, semua apa rumah barunya harus gedong untuk mengurangi kecemburuan sosial. Jadi, desain bangunan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Tidak ada kecemburuan bahwa yang terkena musibah mendapat rumah baru, sehingga lingkungan pun mendapatkan manfaat. Begini-begini ini, harus kami pertimbangkan. Saya tidak mau pasca rekonstruksi timbul masalah-masalah baru. (asy/)


Berita Terkait